Fadli Zon Dorong Musisi Jalanan & Difabel Tampil di Ruang Publik, Stasiun Bogor Jadi Contoh

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan komitmen pemerintah dalam membuka ruang ekspresi seni budaya di ruang-ruang publik, termasuk stasiun kereta api, terminal, hingga bandara

Rekam24.com, Bogor – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan komitmen pemerintah dalam membuka ruang ekspresi seni budaya di ruang-ruang publik, termasuk stasiun kereta api, terminal, hingga bandara. Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Bogor, Jumat.

Dalam kunjungannya, Fadli Zon menyambangi kawasan Cisarua, meresmikan aktivitas ruang publik di Gedung Pencak Silat Pusat Aliran Cimande, hingga meninjau langsung Stasiun Bogor yang dikenal sebagai salah satu stasiun tertua dan cagar budaya di Indonesia.

“Alhamdulillah saya bisa ke sini, ke Stasiun Bogor, salah satu stasiun yang tertua dan juga merupakan cagar budaya. Selain itu lalu lintasnya juga cukup padat,” ujar Fadli Zon di sela kunjungan.

Baca Juga : Terbongkar! Dinasti Kekuasaan di Bekasi Runtuh, Bupati dan Ayahnya Resmi Jadi Tersangka KPK

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Kepala Stasiun Bogor, jumlah penumpang yang keluar-masuk stasiun tersebut mencapai sekitar 100 ribu orang per hari.

“Tadi kata Kepala Stasiun, setiap hari in and out itu sekitar 100 ribu orang. Ini tentu potensi besar bagi ruang publik yang hidup,” katanya.

Fadli Zon menilai ruang publik seperti stasiun sangat ideal untuk menjadi wadah ekspresi musisi, termasuk musisi jalanan dan difabel, yang sekaligus dapat menghibur masyarakat.

Baca Juga : Sidang Perdana Kasus Chromebook Ditunda, Kuasa Hukum Tegaskan: Nadiem Tak Nikmati Rp809 Miliar Sepeserpun

“Di ruang-ruang publik seperti ini, kita harapkan ada fasilitas bagi kalangan musisi untuk berekspresi. Mereka bisa menghibur para penumpang yang lalu lalang di sini,” jelasnya.

Ia juga menyoroti peran musisi difabel, khususnya difabel netra, yang tampil di Stasiun Bogor melalui kurasi komunitas IMJ.

“Menurut IMJ tadi, ada empat kelompok difabel netra. Bagi mereka ini manfaat luar biasa, selain mendapat dukungan dari saweran penumpang, juga bisa menghibur masyarakat,” ujar Fadli.

Baca Juga : 10 Fakta Mengejutkan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang yang Diamankan KPK dalam OTT

Menurutnya, para musisi yang tampil tidak asal tampil, melainkan melalui proses kurasi, pelatihan, hingga workshop untuk meningkatkan kapasitas.

“Mereka dikurasi dengan baik, ada capacity building, ada pelatihan dan workshop. Jadi ini serius,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Musik, Film, dan Seni telah menyalurkan bantuan alat musik dan sistem tata suara bagi musisi jalanan.

“Paling tidak di 11 atau 12 kota sudah kita mulai. Ini sebagai penunjang agar mereka bisa tampil tertib di ruang publik seperti stasiun, terminal bus, airport, dan tempat lainnya,” jelas Fadli Zon.

Baca Juga : Sidang Perdana Kasus Chromebook Ditunda, Kuasa Hukum Tegaskan: Nadiem Tak Nikmati Rp809 Miliar Sepeserpun

Ia menambahkan, ke depan ruang publik yang difungsikan untuk musik akan terus diperluas melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

“Di airport sudah berjalan, kemudian di terminal, dan nanti di ruang publik lain bekerja sama dengan KAI, pengelola bandara, pelabuhan, dan lainnya. Semakin banyak ruang publik, semakin bagus dan semakin tertib,” katanya.

Fadli Zon menekankan bahwa program ini juga bertujuan mengubah stigma musisi jalanan.

“Bukan sembarangan ‘jreng-jreng’. Kita lihat tadi, Mas Kikin, difabel netra, suaranya bagus, hafal sekitar 150 lagu, bisa bernyanyi sampai empat jam. Bayangkan, itu sudah berapa album,” tuturnya.

Menurutnya, kemampuan menghafal lagu tanpa membaca justru menghadirkan penghayatan yang lebih kuat.

“Ini contoh keseriusan. Penghayatannya pasti jauh lebih baik. Ini yang perlu kita ruwat dan kita jaga,” tambahnya.

Terkait rencana pemberian identitas bagi para musisi, Fadli Zon menyebut pemerintah akan membantu penyediaan seragam.

“Nanti kita bantu dengan seragam, kita desain seperti apa, supaya lebih rapi dan mudah dikenali masyarakat,” ujarnya.

Menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait royalti musik, Fadli Zon menyatakan pemerintah masih melakukan pengurusan lebih lanjut.

“Soal royalti itu sedang diurus. Yang paling penting, semua pihak harus untung sesuai dengan proporsinya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *