Rekam24.com, Bogor – Persaingan memperebutkan kursi Direktur Bisnis dan Pelayanan Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor kian memanas. Dua nama besar muncul ke permukaan: Sonny Salimi dan Muzakkir. Keduanya bukan figur sembarangan, melainkan “panglima” yang telah teruji di ekosistem BUMD. Namun, publik bertanya-tanya: siapa yang paling mampu menakhodai layanan air minum warga Bogor?
Jika bicara soal “jam terbang” di industri air, Sonny Salimi adalah kandidat dengan portofolio yang nyaris tak bercelah. Mengawali karier dari level operator paling bawah hingga menduduki posisi Direktur Utama PDAM Tirtawening Kota Bandung selama tiga periode, Sonny membuktikan bahwa ia bukan sekadar manajer, melainkan praktisi yang paham hingga ke detail pipa terkecil.
Selama kepemimpinannya di Bandung, Sonny mencatatkan prestasi monumental:
Baca Juga : Rudy Susmanto: Pembangunan Bogor 2027 Harus Terstruktur dan Punya Blue Print Jelas
Kemandirian Finansial: Mengubah laboratorium air menjadi laboratorium lingkungan berorientasi profit dengan omzet menembus Rp23 Miliar per tahun.
Ekspansi Masif: Membangun SPAM Gedebage berkapasitas 700 lpd untuk melayani 56.000 pelanggan baru.
Inovasi Investasi: Menginisiasi proyek B2B pembangunan SPAM Bandung Terintegrasi senilai Rp3,75 Triliun—sebuah langkah berani untuk menjamin ketersediaan air jangka panjang.
Efisiensi Operasional: Pada 2025, strateginya terbukti mendongkrak pendapatan bulanan hingga Rp4-5 Miliar dari sektor air minum.
Bagi Sonny, Tirta Pakuan bukan sekadar tempat kerja baru, melainkan medan pembuktian untuk membawa layanan air Bogor menuju kelas dunia melalui Smart Water Management.
Di sisi lain, Muzakkir hadir dengan modal transformasi sosial dan digital. Sebagai mantan Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ), ia sukses mengubah wajah pasar kumuh di Bogor menjadi area yang lebih tertata dan modern, seperti revitalisasi Pasar Blok F.
Lulusan IPB University ini memiliki jiwa entrepreneur yang kuat. Prestasinya meliputi:
Baca Juga : Targetkan Pertumbuhan Agresif, PGN Andalkan Ekosistem Kerja Solid dan Keamanan Digital 100%
Digitalisasi: Meluncurkan aplikasi e-kujang untuk belanja online di pasar rakyat.
Standardisasi: Membawa Pasar Gunung Batu meraih sertifikat SNI dari Kemendag RI.
Penyelamatan Aset: Berhasil melakukan tertib administrasi dan mengembalikan aset-aset pasar milik Kota Bogor.
Pertarungan ini menjadi menarik karena perbedaan fundamental latar belakang keduanya.
Baca Juga : Dukung Program Sekolah Aman, PMII Kota Bogor Beri Catatan Kritis dan Siap Kawal
Stabilitas Layanan: Mengelola air adalah bisnis yang sangat sensitif secara teknis. Jika target Pemkot Bogor adalah menekan angka kebocoran air (Non-Revenue Water) dan menjaga stabilitas distribusi, Sonny Salimi memiliki keunggulan mutlak. Ia adalah “orang dalam” industri air yang tidak lagi memerlukan waktu untuk belajar anatomi teknis.
Diplomasi Stakeholder: Keduanya dikenal luwes. Namun, Direktur Bisnis harus mampu menyeimbangkan margin profit untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah) dengan sisi sosial masyarakat. Sonny telah membuktikan ini dengan kemitraan B2B yang tetap menjaga kepentingan publik.
Dalam sesi Fit and Proper Test, tantangan terbesar Sonny Salimi adalah membuktikan bahwa ia membawa “nafas baru” dan inovasi segar, bukan sekadar mengulang pola lama dari Bandung. Sementara bagi Muzakkir, ia harus mampu meyakinkan penguji bahwa kemampuannya mengelola pasar bisa dikonversi secara cepat untuk memahami kerumitan teknis distribusi air.
Pada akhirnya, portofolio keberhasilan akan bicara. Apakah Bogor akan memilih “Tukang Ledeng” kelas kakap yang menguasai hulu hingga hilir, atau pengusaha pasar yang piawai dalam penataan citra? Semua kini bergantung pada hasil penilaian tim ahli dan selera kepemimpinan di Balai Kota.










