Vid30s, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 yang digelar di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Dalam forum yang dipimpin Perdana Menteri India Narendra Modi dan dihadiri pemimpin negara seperti Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Prabowo menyampaikan sejumlah pernyataan tegas yang menyoroti kemandirian Indonesia, spirit Global South, hingga reformasi tata kelola global.
Berikut lima poin utama yang disampaikan Presiden Prabowo di KTT BRICS:
1. Bangun Kekuatan dari Rakyat, Indonesia Tak Mau Didikte
Prabowo menekankan bahwa kekuatan sebuah bangsa berawal dari dalam negeri, khususnya kemampuan memberi makan rakyat, menyediakan energi, mendidik anak-anak, dan membuka kesempatan sejahtera.
“Kekuatan selalu berawal dari rumah, dari rakyat kita… Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri,” ujarnya dalam sesi terbatas.
Ia juga menegaskan Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan mana pun. Dengan fondasi yang kuat, BRICS dinilai bisa memperkuat kerja sama, terutama di bidang energi dan ketahanan jangka panjang.
2. Spirit Bandung dan Reformasi PBB
Mengangkat kembali semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Prabowo mengingatkan pentingnya persatuan negara-negara yang baru merdeka sebagai mitra setara. Dengan bersatu, suara mereka lebih terdengar dan kepentingan lebih terlindungi.
Ia juga mendorong reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar lebih representatif, tanggap, dan mampu memberikan hasil nyata. Menurut Prabowo, BRICS yang mewakili separuh umat manusia dan porsi besar ekonomi global harus berperan dalam membangun sistem multilateral yang lebih adil, dengan PBB sebagai pusatnya.
3. Gaungkan “Abad Hijau” di Tengah Perubahan Iklim
Pada hari kedua, Prabowo menekankan pentingnya mengubah kerentanan menjadi peluang. Sebagai negara kepulauan di Cincin Api, Indonesia menghadapi tantangan kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi. Namun, kekayaan mineral kritis, tanah jarang, energi terbarukan, dan hutan menjadi modal besar.
“Kita memiliki segala sesuatu yang menjadi landasan bagi abad hijau,” katanya. Negara-negara BRICS didorong menyatukan sumber daya, teknologi, dan pasar untuk menghadapi tantangan iklim secara bersama-sama.
4. Indonesia Kini Ekspor Beras dan Jagung
Prabowo mengungkapkan transformasi Indonesia dari salah satu importir terbesar beras, jagung, dan biji-bijian menjadi pengekspor.
“Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir terbesar… Kini, kita telah menjadi eksportir dan akan mampu meningkatkan dukungan untuk seluruh dunia,” tegasnya.
Ia mendorong industrialisasi bersama di antara anggota BRICS agar sumber daya dan kapasitas produksi dioptimalkan menjadi nilai tambah yang lebih besar bagi rakyat.
5. Suara Global South Harus Didengar
Prabowo menegaskan peran strategis BRICS dalam memperkuat suara negara-negara belahan bumi selatan (Global South). Ia mengingatkan bahwa menjelang 2030, komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) harus terus dilanjutkan bahkan dilampaui.
“Oleh karena itu, sudah sewajarnya suara negara-negara Global South didengar, tidak hanya dalam mempercepat pelaksanaan agenda 2030, tetapi juga dalam menentukan arah masa depan setelahnya,” ujar Presiden.
Kehadiran Prabowo di KTT BRICS 2026 menjadi momentum Indonesia menegaskan posisi sebagai negara yang mandiri, aktif memperjuangkan kepentingan Global South, serta mendorong kerja sama yang lebih adil dan inklusif di tingkat global.





