Rekam24.com, Bogor – Unit metal asal Bogor, Kraken, resmi merilis album penuh kedua mereka yang bertajuk Kaliyuga. Karya terbaru ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah narasi utuh mengenai kebangkitan, kemarahan, hingga manifestasi perlawanan terhadap berbagai bentuk penindasan di tengah realitas zaman yang kian kompleks.
Album Kaliyuga dibuka dengan trek “Awakening”, yang langsung memperkenalkan karakter musik Kraken yang tegas, agresif, dan sarat distorsi. Sejak awal, pendengar seolah diseret masuk ke dalam fase kesadaran yang terus berkembang menuju konflik batin dan potret brutalitas sosial lewat lagu “Fatamorgana”.
Secara filosofis, pemilihan judul Kaliyuga merefleksikan kondisi zaman yang ditandai oleh kemunduran etika dan moral manusia. Di tengah kegelapan tersebut, lagu “Kalam Menikam” muncul sebagai representasi semangat untuk terus bertahan dan bangkit dari tekanan yang menghantam tanpa henti.
Baca Juga : Bupati Bogor Sampaikan Belasungkawa Kepada korban Tragedi Sungai Cileungsi
Kraken juga tidak ragu menyuarakan kritik tajam terhadap kekuasaan. Melalui “Manipocalypse” dan “Retorika Tirani”, mereka menyoroti rusaknya moral penguasa serta penggunaan kata-kata sebagai alat intimidasi dan praktik manipulatif yang menindas rakyat kecil. Intensitas album kian memuncak dalam “Parade Genosida”, sebuah gambaran tentang kekerasan sistematis, propaganda, dan dominasi kekuasaan yang absolut.
Di sisi lain, Kraken menyisipkan ruang kontemplasi melalui “Labirin” yang mengusung tema pencarian makna hidup untuk keluar dari lingkaran kesesatan. Sementara itu, “Paradigma” mengangkat isu kerakusan manusia dalam mengejar simpati dan takhta.
Album ini ditutup dengan “Belati Neraka”, sebuah klimaks gelap yang menegaskan luapan amarah, luka, serta konsekuensi dari dunia yang telah kehilangan nurani. Lewat Kaliyuga, Kraken menegaskan posisi mereka: bahwa musik adalah pernyataan sikap terhadap zaman dan pengingat pentingnya kesadaran di tengah kekacauan global.










