Candaan Trump Soal Nama ‘Mohammad’ Pancing Reaksi Keras DPR, Kemlu Didesak Turun Tangan

WASHINGTON, DC - AUGUST 30: Republican presidential nominee, former U.S. President Donald Trump speaks during the 2024 Joyful Warriors National Summit on August 29, 2024 in Washington, DC. Trump continued to campaign for the upcoming presidential election on November 5, 2024. (Photo by Alex Wong/Getty Images)

Rekam24.com, Jakarta – Pernyataan kontroversial mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu gelombang kritik internasional. Kali ini, guyonan Politisi Partai Republik tersebut mengenai popularitas nama “Mohammad” saat menyindir kepemimpinan Iran mendapat sorotan tajam dari jajaran Senayan.

Sejumlah pimpinan Komisi I DPR RI mendesak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia untuk mencermati dinamika ini dan menyiapkan respons diplomatik yang terukur.

Bacaan Lainnya

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa para tokoh politik global semestinya memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap sensitivitas keagamaan. Kebebasan mengekspresikan pendapat, menurutnya, tidak boleh mengabaikan nilai-nilai penghormatan terhadap keyakinan orang lain.

Baca Juga : Bidik Seratus Emas Porprov Jabar 2026, Kota Bogor Pilih Andalkan Talenta Lokal

“Setiap pemimpin dunia perlu memperhitungkan dengan matang dampak dari setiap ucapannya. Apalagi jika sudah menyangkut simbol, identitas, atau nama yang amat disucikan oleh pemeluk agama tertentu,” tegas Dave.

Ia mengingatkan bahwa nama Muhammad membawa kedalaman spiritual dan penghormatan tinggi bagi miliaran umat Islam di seluruh dunia. Menggunakannya sebagai bahan olokan politik dinilai berpotensi merusak keharmonisan antarbangsa serta melukai perasaan umat beragama.

Guna merespons gejolak ini, Komisi I meminta Kemlu RI melakukan kajian komprehensif sebelum menentukan langkah. Komunikasi diplomasi dianggap perlu untuk menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berpopulasi muslim terbesar yang menjunjung tinggi toleransi.

Baca Juga : Modal Lima Emas Kejurnas, Hapkido Kota Bogor Optimistis Kunci Tiga Emas di Porprov Jabar 2026

Kendati demikian, Dave menekankan pentingnya kehati-hatian agar ketegangan tidak justru memperkeruh hubungan bilateral kedua negara.

“Prinsip utama kita adalah tegas menjaga kehormatan agama, namun tetap mengedepankan diplomasi yang bijak dan terukur. Tujuannya bukan untuk memperbesar polemik, melainkan membangun kesadaran global bahwa perselisihan politik tidak boleh merendahkan nilai-nilai keyakinan,” tambah Dave.

Pernyataan yang memicu polemik tersebut terlontar saat Trump berpidato dalam agenda kampanye di hadapan para pendukungnya. Saat mengritik rezim Iran, Trump melontarkan lelucon mengenai cara menyapa warga asal Timur Tengah.

“Jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja ‘Mohammad’. Kemungkinannya tepat sekitar 65 persen. Saya sudah menerapkannya bertahun-tahun dan tidak pernah salah,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari laporan Reuters.

Kritik tak kalah pedas datang dari Wakil Ketua Komisi I DPR lainnya, Sukamta. Ia menilai retorika yang disampaikan Trump sangat jauh dari etika seorang negarawan. Menurutnya, tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran sama sekali tidak menyertakan simbol keagamaan sebagai sarana ejekan.

“Nama Muhammad sangat mulia bagi pemeluk agama Islam. Dijadikan bahan komedi oleh sosok pejabat publik jelas tindakan yang sangat tidak pantas,” kata Sukamta.

Sukamta menambahkan bahwa di tengah situasi global yang penuh ketegangan, figur publik seharusnya menebarkan pesan persatuan dan saling menghormati, bukannya memperkeruh keadaan dengan ujaran yang memicu kontroversi sektarian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *