Rekam24.com, Bogor – Kondisi Sungai Ciliwung saat ini dinilai berada dalam titik yang sangat mengkhawatirkan. Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari IPB University, Prof. Dr. Ir. Etty Riani, mengungkapkan bahwa secara visual dan kualitas data, kondisi Ciliwung saat ini justru lebih buruk dibandingkan dua tahun lalu saat penelitian limbah domestik dan mikroplastik dilakukan. Sabtu, (28/3/26)
Menurut Prof. Etty, terdapat setidaknya empat faktor utama yang menyebabkan kondisi Ciliwung semakin memprihatinkan. Pertama, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan sistem pengolahan air limbah (IPAL) yang memadai, sehingga limbah domestik langsung dibuang ke sungai.
Kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai parameter pencemar seperti BOD, COD, nutrien (N, S, P), hingga gas beracun seperti amonia dan H2S telah melampaui ambang baku mutu, ditambah tingginya kandungan deterjen serta mikroplastik.
Baca Juga : DLH Kabupaten Bogor Siapkan Program Pengelolaan Sampah Desa untuk Selamatkan Sungai Ciliwung
Ketiga, budaya membuang sampah sembarangan masih terjadi, diperparah dengan lemahnya pengawasan di lapangan akibat keterbatasan sumber daya manusia.
Keempat, terjadi penyempitan aliran sungai yang disebabkan oleh padatnya permukiman yang melanggar aturan tata ruang.
“Lahan tidak bertambah, manusia bertambah, akhirnya sungai yang dirambah.” ujarnya.
Baca Juga : Pasar Jambu Dua Jadi ‘Rumah Baru’ Pedagang Sayur Malam Bogor
Menanggapi perbandingan dengan Jepang yang mampu membersihkan sungainya dalam satu dekade, Prof. Etty menekankan bahwa kunci keberhasilan Negeri Sakura bukan sekadar teknologi, melainkan disiplin sistem.
“Jepang tidak berkompromi soal bantaran sungai. Alih-alih gedung, mereka membangun ruang terbuka hijau atau sarana olahraga yang berfungsi sebagai penampung luapan air (parkir air) saat debit sungai tinggi.” jelas Prof. Etty.
Ia menambahkan, Jepang melakukan pembangunan IPAL secara besar-besaran, penegakan hukum yang konsisten, serta edukasi masif hingga ke level akar rumput (RT/RW) mengenai budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Baca Juga : Pasar Jambu Dua Jadi ‘Rumah Baru’ Pedagang Sayur Malam Bogor
Untuk mencegah kondisi Sungai Ciliwung semakin memburuk dalam 20–30 tahun ke depan, Prof. Etty mengusulkan sejumlah langkah strategis yang perlu dijalankan secara nyata.
Langkah tersebut meliputi pembangunan IPAL berskala besar dengan teknologi yang sesuai, serta kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk terhubung ke sistem tersebut. Selain itu, penataan bantaran sungai harus dilakukan dengan merelokasi warga ke hunian yang layak, sebagaimana konsep penataan permukiman di sepanjang jalur rel kereta. Sempadan sungai juga perlu dikembalikan fungsinya sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), disertai penghijauan di wilayah hulu guna mengurangi sedimentasi.
Di sisi lain, penegakan hukum harus diperkuat melalui penerapan denda tegas, termasuk sanksi sosial, bagi pelaku pembuangan limbah atau sampah tanpa pengecualian. Audit lingkungan terhadap industri di sepanjang DAS Ciliwung juga perlu dilakukan secara berkala. Terakhir, diperlukan pembentukan lembaga khusus lintas wilayah dari hulu hingga hilir di bawah koordinasi pemerintah pusat, agar pengelolaan Ciliwung berjalan terpadu dan tidak terfragmentasi antar daerah.
Prof. Etty menegaskan bahwa pembenahan ini tidak bisa bersifat instan atau sekadar “proyek sesaat”.
“Jika kita serius mengombinasikan pembangunan infrastruktur, ketegasan hukum, dan perubahan perilaku sosial secara berkesinambungan, hasilnya baru akan terlihat dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Tanpa itu, Ciliwung hanya akan menjadi warisan yang semakin kotor bagi generasi mendatang.” pungkasnya.










