Rekam24.com, Bogor – Kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Institut Pertanian Bogor (IPB) University menjadi momentum krusial bagi kebangkitan pangan berbasis riset. Bukan sekadar seremoni, kunjungan ini membawa misi besar: mempercepat adopsi inovasi dalam negeri untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dalam keterangannya, Mentan Amran menegaskan bahwa IPB adalah lumbung inovasi yang siap menjawab tantangan pertanian. Kolaborasi ini pun bukan barang baru, melainkan kelanjutan dari sinergi yang telah terbangun sejak 2016 lalu.
Fokus utama kali ini tertuju pada benih padi varietas IPB 3S. Inovasi ini diklaim mampu memproduksi 9 hingga 11 ton gabah per hektare—hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional yang hanya 5,5 ton. Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementan mengucurkan Rp250 miliar untuk memborong benih unggul tersebut.
Baca Juga : Tanggung Jawab “Karung Koin” Warga Indramayu Ditolak Bupati, Ini Alasannya!
“Ini adalah bentuk penghargaan kami bagi para peneliti dalam negeri. Produk riset yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat harus kita dukung penuh,” tegas Amran.
Tak hanya IPB, pemerintah juga menggandeng kampus besar lainnya seperti UNHAS, ITS, dan UNAND. Amran juga menantang para peneliti untuk memecahkan masalah teknis komoditas lain, seperti memperpendek masa dormansi bawang putih dari enam bulan menjadi satu bulan saja.
Baca Juga : Diduga Kebocoran Gas Picu Ledakan di Lapangan Padel Ciangsana, Sekolah Rusak dan Belajar Dialihkan Daring
Selain itu, komoditas tapioka, kopi, hingga kedelai masuk dalam radar pengembangan masif. Terkait dinamika harga global, Amran memberikan peringatan keras kepada para importir kedelai agar tidak mengambil keuntungan berlebih yang memberatkan rakyat.
“Kita ingin kerja sama ini langsung ke tahap implementasi masif, bukan lagi sekadar uji coba. Manfaatnya harus segera dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (Maya Melina)










