Edisi Khusus, #3, Siharum Penjaga Tebing, Pohon Pulai Simbol Harmonisasi Budaya dan Penjaga Ekosistem di Tanah Sunda

Pohon Pulai (Alstonia scholaris) atau yang akrab disapa Pule dan Lame, bukan sekadar tanaman peneduh biasa

Rekam24.com, Bogor – Dalam kebudayaan Sunda, pohon Pulai (Alstonia scholaris) atau yang akrab disapa Pule dan Lame, bukan sekadar tanaman peneduh biasa. Pohon ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan Objek Pemajuan Kebudayaan, khususnya dalam aspek Teknologi dan Pengetahuan Tradisional.

Sekretaris Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Sekdis Parbud) Kota Bogor, Dian Herdiawan, mengungkapkan bahwa Pule memiliki peran ikonik sebagai bahan baku utama pembuatan Wayang Golek. Karakter kayunya yang ringan, berwarna putih, dan mudah dipahat menjadi alasan para perajin memilihnya untuk membentuk detail karakter wayang tanpa membebani dalang saat memainkannya.

“Selain menjadi unsur seni, Pule adalah apotek hidup. Secara turun-temurun, masyarakat Sunda memanfaatkan rebusan kulit batangnya untuk mengobati malaria, demam, hingga masalah pencernaan,” ujar Dian.

Baca Juga : Viral Tarif Parkir RSUD Bakti Pajajaran Cibinong, Pengelola Minta Maaf dan Gratiskan Parkir Sebulan

Sejarah mencatat bahwa Ibu Kota Pakuan Pajajaran dibangun dengan material alam seperti kayu, bambu, dan ijuk. Semangat alamiah ini terus dibawa hingga kini melalui moto yang diaktualisasikan Disparbud Kota Bogor: “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” serta “Dengan Budaya Mari Kita Pelajari Alam Sebelum Alam Memberikan Pelajaran Kepada Kita.”

Dian menekankan bahwa apa pun tindakan manusia terhadap lingkungan akan segera diseimbangkan oleh alam. Kerusakan hutan dan pembuangan sampah sembarangan akan berujung pada bencana banjir. Sebaliknya, upaya menjaga alam seperti menanam Pule di jalur hijau memberikan manfaat ganda bagi manusia.

“Menanam Pule bukan hanya soal produksi oksigen (O2), tetapi juga tentang kesehatan jiwa. Wangi khas dari pohon ini berfungsi sebagai aromaterapi alami yang menenangkan jiwa bagi siapa pun yang melintas di bawahnya,” tambahnya.

Melalui pelestarian pohon Pule, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan ekologis kota demi kualitas hidup yang lebih bersih dan harmonis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *