Rekam24.com, Bogor – Nama Mr. Nanang, seorang penjual es cincau yang viral karena kemampuannya menguasai empat bahasa asing, sempat menjadi sorotan saat diundang mengisi acara di lingkungan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Namun, di balik momen viral tersebut, terselip kisah kekecewaan dan harapan yang terasa “sia-sia” akibat kendala komunikasi dengan pihak ajudan.
Kisah ini bermula saat gerobak cincau Mr. Nanang dipesan secara khusus untuk sebuah acara di Hotel Purwakarta yang dihadiri oleh KDM. Awalnya, ia tidak menyangka bahwa pesanannya datang dari tokoh besar Jawa Barat tersebut.
“Awalnya ada ajudan ke sini, ada pesanan untuk di hotel. Saya enggak nyangka bahwa itu acara Pak KDM. Gerobaknya dibawa langsung ke sana. Di hotel itu saya sempat ngobrol langsung dengan beliau,” ujar Mr. Nanang mengenang momen tersebut.
Baca Juga : Bangkit Pascabanjir, 36 Fasilitas Kesehatan di Aceh dan Sumut Kini Nikmati Akses Air Bersih
Setelah pertemuan di hotel, Mr. Nanang diminta untuk datang ke Lembur Pakuan pada hari Sabtu dan Minggu. Ia pun rutin hadir selama dua pekan pertama untuk menjajakan dagangannya sekaligus menunjukkan kemampuannya.
Memasuki minggu ketiga, kejanggalan mulai dirasakan. Meski sudah menempuh perjalanan jauh, ia justru merasa asing di lingkungan yang seharusnya sudah mengenalnya. Bahkan, ia merasa ada dinding pembatas antara dirinya dan KDM yang diduga berasal dari lingkaran terdekat atau ajudan sang tokoh.
“Pas Minggu ketiga, saya sudah jalan ke sana tapi ditanyain (oleh petugas/lingkaran dalam) seolah-olah tidak tahu siapa saya. Padahal mereka ada saat di Purwakarta. Di situ saya merasa ‘baper’, apakah Pak KDM tahu atau ini hanya permainan orang-orang di lingkaran beliau?” ungkapnya dengan nada kecewa.
Baca Juga : Vibes Mewah Bandara, Awali Perjalanan dengan Sentuhan Premium Blue Sky Premier Lounge
Mr. Nanang mengaku sulit berkomunikasi langsung karena segala akses harus melalui ajudan. “Waktu itu saya dititipin pesan ke ajudannya, ada nomor HP-nya. Kalau ada apa-apa lewat dia. Tapi kenyataannya, komunikasi tidak berjalan lancar,” tambahnya.
Meski merasa waktunya terbuang atau waste of time, Mr. Nanang menegaskan bahwa ia tidak membenci pemerintah. Ia hanya menyayangkan sistem koordinasi yang membuatnya merasa sia-sia. Baginya, harapan terbesarnya bukan sekadar materi, melainkan kesempatan untuk diberdayakan sesuai kemampuannya.
“I feel like it’s in vain, sia-sia gitu. Padahal itu harapan besar saya. Saya ingin berguna untuk Jawa Barat, berkontribusi untuk Bogor. Apa yang saya miliki, kemampuan bahasa saya, mungkin bisa dikaryakan. Mau jadi juru bicara atau di bidang UMKM, saya siap,” tuturnya dalam campuran bahasa Inggris.
Baca Juga : Kebocoran Gas di Bogor Tengah Hanguskan 3 Rumah, Satu Balita Meninggal Dunia
Di akhir percakapan, Mr. Nanang tetap mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap rakyat kecil, namun ia berharap agar akses bagi warga yang memiliki potensi seperti dirinya tidak terhambat oleh birokrasi internal di sekitar para pemimpin.










