Rekam24.com, Bogor – Luka yang dialami Sudrajat (49) bukan sekadar memar di tubuh, melainkan hancurnya martabat seorang kepala keluarga yang sudah belasan tahun mengais rejeki di jalanan. Penjual es gabus asal Desa Rawa Panjang, Bojong Gede ini menjadi korban fitnah keji dan dugaan kekerasan oknum aparat setelah dituding menjual es berbahan spons.
Suasana subuh di kediaman Sudrajat pecah saat sosok yang biasanya pulang sore hari, baru tampak di depan pintu pada pukul 04.00 WIB. Zaitun (18), putri ketiganya, tak bisa menahan air mata saat mengenang kondisi ayahnya pagi itu.
“Bapak kelihatan lemas banget, langsung tidur. Pas ditanya, bapak bilang… bapak dipukul polisi,” ujar Zaitun dengan suara bergetar.
Baca Juga : Jalan Kota Bogor Bolong, PUPR Sebut Semua Daerah Sama Pemicunya Hujan
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keluarga. Kekhawatiran mereka memuncak saat Sudrajat tak kunjung pulang pada jam biasanya (16.00 WIB). Istri dan anak-anaknya sempat menyisir stasiun-stasiun, mencari keberadaan pahlawan keluarga mereka tanpa kepastian.
Zaitun menegaskan bahwa tuduhan ayahnya mencampurkan spons ke dalam dagangannya adalah fitnah yang sangat menyakitkan. Sang ayah hanyalah penjual keliling yang mengambil barang dari pihak lain.
Asal Es: Ayahnya tidak memproduksi sendiri, melainkan mengambil dari agen.
Baca Juga : Dua Tahun Tanpa Kepastian, LBH PMII Kota Bogor Ultimatum Polres Bogor Segera Tuntaskan Kasus!
Tekstur: Tekstur es gabus memang padat dan bisa mengeras jika kering, namun itu murni bahan makanan.
Dedikasi: Sudah 15 tahun Sudrajat berkeliling dari Kemayoran, Manggarai, hingga Kota Tua demi upah bersih yang hanya Rp50.000 per hari.
Tragedi ini semakin memilukan jika melihat kondisi ekonomi keluarga. Sudrajat harus menghidupi lima orang anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Zaitun sendiri harus mengubur mimpinya bersekolah dan berhenti di jenjang SMP demi membantu beban orang tuanya.
Baca Juga : Vokalis Element Lucky Widja Meninggal Dunia di Usia 49 Tahun
“Mau banget sekolah lagi, tapi biayanya nggak ada,” ungkapnya lirih. Kini, dari lima bersaudara, hanya si bungsu yang masih duduk di kelas 1 SD yang tersisa di bangku sekolah.
Keluarga kini hanya bisa berharap keadilan berpihak pada rakyat kecil seperti mereka, agar tak ada lagi “Sudrajat-Sudrajat” lain yang menjadi korban salah sasaran dan arogansi.









