Jelang Idulfitri, Pedagang Ketupat Musiman di Pasar Anyar Bogor Raup Omzet Jutaan Rupiah

Safrudin (43), pria asal Cigudeg yang setiap tahun setia menjajakan cangkang ketupat dan daun kelapa mentah.

Rekam24.com, Bogor – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, hiruk-pikuk Pasar Anyar mulai diramaikan oleh para pedagang musiman.

Salah satunya adalah Safrudin (43), pria asal Cigudeg yang setiap tahun setia menjajakan cangkang ketupat dan daun kelapa mentah.

Bagi Safrudin, sekitar momen H-2 Lebaran tahun ini adalah masa “panen” yang paling dinanti. Meski terlihat sederhana, bisnis menganyam janur ini terbukti sangat menjanjikan dan hampir tidak pernah memberikan kerugian baginya.

Baca Juga : ASN Kabupaten Bogor Cabut Laporan ke Ombudsman, Akui Terjadi Kesalahpahaman

Safrudin tidak sembarangan memilih bahan. Ia mendatangkan langsung daun kelapa pilihan dari petani. Kualitas daun sangat ia perhatikan karena sifatnya yang sensitif.

“Daun ini bisa tahan seminggu, asal jangan terkena air atau panas matahari langsung. Kalau kena, warnanya berubah merah dan kualitasnya jadi kurang bagus,” jelas Safrudin saat diwawancara dilokasi. Pada Selasa (17/3/26).

Menariknya, ia menjelaskan bahwa perbedaan warna pada ketupat yang sudah dianyam tidak mempengaruhi kualitas rasa masakan nantinya. Semuanya bergantung pada teknik memasak masing-masing pembeli.

Safrudin menawarkan fleksibilitas bagi pembeli, mulai dari yang ingin praktis hingga yang ingin menganyam sendiri di rumah. Dimulai dari 1 iket anyaman ketupat mentah di bandrol Rp.10.000 isi 10 buah dan Daun Kelapa Mentah 1 Iket di bandrol Rp. 40.000 isi 50 buah.

Baca Juga : Setahun Jalani Penahanan, Nikita Mirzani Diduga Alami Kerugian Lebih Rp200 Miliar

Berjualan di Pasar Anyar setiap Idulfitri dan Iduladha, Safrudin mengaku Idulfitri selalu memberikan pemasukan paling besar. Dalam satu musim jualan, ia mampu meraup omzet sekitar Rp. 4-5 juta.

Dedikasinya tidak main-main. Ia membuka lapaknya mulai pukul 07.00 WIB hingga 24 jam sampai stoknya habis. Selama bertahun-tahun berjualan, ia mengaku dagangannya selalu ludes, bahkan sering kali harus menambah stok.

“Jualan ketupat itu menjanjikan, nggak pernah rugi. Yang penting sabar nunggu pembeli,” tambahnya.

Untuk urusan operasional, ia juga tertib membayar biaya keamanan dan kebersihan pasar sebesar Rp10.000 per hari demi kenyamanan pembeli. (Maya Melania)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *