Rekam24.com, Jakarta – Eskalasi militer yang terus meningkat di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu kekhawatiran global yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Perang Dingin. Pertanyaan yang muncul di benak publik dunia saat ini hanya satu: Apakah ini awal dari Perang Dunia Ketiga (WWIII)?
Berikut adalah rangkuman analisis mengenai situasi terkini dan skenario yang mungkin terjadi.
Ketegangan ini bukan lagi sekadar perang kata-kata. Serangan langsung antarwilayah, penggunaan teknologi drone canggih, dan keterlibatan militer AS di Laut Merah telah menciptakan “kotak korek api” yang siap meledak kapan saja. Analis melihat ada tiga faktor utama yang bisa menyeret konflik ini menjadi perang global:
Baca Juga : Rudal Iran Hantam Jantung Kekuatan Militer AS di Timur Tengah
Kegagalan Diplomasi: Ketika jalur komunikasi buntu, militer menjadi satu-satunya bahasa yang digunakan.
Keterlibatan Kekuatan Besar: Jika Rusia atau Tiongkok memutuskan untuk memberikan dukungan militer terbuka kepada Teheran, maka konflik ini akan berubah dari perang regional menjadi konfrontasi antar-blok (Barat vs. Timur).
Efek Domino Ekonomi: Penutupan jalur logistik energi global dapat memaksa negara-negara netral untuk memihak demi mengamankan ekonomi mereka.
Baca Juga : Eskalasi Puncak: Israel dan AS Lancarkan Serangan Militer Besar-Besaran ke Iran
Para ahli strategi militer terbagi menjadi dua kubu dalam menanggapi potensi WWIII:
Kubu Pesimis (Risiko Tinggi): Mereka berpendapat bahwa sejarah seringkali berulang melalui “salah kalkulasi”. Seperti Perang Dunia I yang dipicu oleh satu pembunuhan di Sarajevo, satu serangan yang “terlalu jauh” di Tel Aviv atau Teheran dapat memicu rangkaian pembalasan yang tidak bisa dihentikan oleh diplomasi.
Kubu Realis (Risiko Terkendali): Banyak pengamat meyakini bahwa WWIII sangat kecil kemungkinannya terjadi karena adanya doktrin Mutually Assured Destruction (MAD).
Baca Juga : GMKB Dukung Penuh Keputusan Wali Kota Bogor Terkait Pelantikan Direksi PDAM Tirta Pakuan
“Di era nuklir, tidak ada pemenang dalam perang total. Amerika Serikat tidak ingin terjebak dalam perang darat yang mahal di Timur Tengah, dan Iran sangat sadar bahwa perang terbuka melawan kekuatan super dapat mengakhiri eksistensi rezim mereka,” ujar salah satu pakar hubungan internasional.
Dunia kini memantau beberapa “lampu merah” yang jika menyala, berarti risiko perang global meningkat, Keterlibatan NATO secara kolektif dalam mendukung Israel secara ofensif, Uji coba senjata nuklir atau pengayaan uranium tingkat tinggi oleh Iran, Mobilisasi militer besar-besaran oleh Rusia di wilayah yang berbatasan dengan sekutu AS sebagai bentuk pengalihan isu.
Secara teknis, saat ini dunia lebih berada dalam fase “Perang Dingin Baru” yang sangat panas di tingkat regional. Meskipun potensi menuju Perang Dunia III tetap ada, kepentingan ekonomi global dan ketakutan akan kehancuran nuklir masih menjadi rem darurat yang kuat bagi negara-negara besar.










