Makna Mendalam Isra’ Mi’raj: Perjalanan Langit yang Mengubah Sejarah Islam

Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW, melainkan peristiwa monumental yang membentuk fondasi ajaran Islam.

Rekam24.com, Jakarta – Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW, melainkan peristiwa monumental yang membentuk fondasi ajaran Islam. Terjadi pada malam 27 Rajab, peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT sekaligus kasih sayang-Nya kepada umat manusia.

Perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem

Kisah agung ini bermula di Masjidil Haram, Mekkah. Mengendarai Buraq, makhluk surgawi berkecepatan luar biasa, Rasulullah menempuh perjalanan menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Di sana, sebuah momen bersejarah tercipta: Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjamaah bersama para nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa AS. Hal ini menegaskan posisi Masjidil Aqsa sebagai salah satu tempat tersuci bagi umat Islam.

Menembus Tujuh Langit

Baca Juga : Direktur Utama RSUD Kota Bekasi Bantah Omongan Wali Kota Bekasi Terkait Hutang Rumah Sakit Hingga 70 Miliar

Puncak perjalanan berlanjut ke Mi’raj, di mana Rasulullah naik menembus tujuh lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Di sepanjang perjalanan, beliau diperlihatkan gambaran surga dan neraka, serta bertemu kembali dengan para nabi sebelum akhirnya menghadap langsung kepada Allah SWT.

Kado Terindah: Perintah Salat Lima Waktu

Inti dari peristiwa Mi’raj adalah diterimanya perintah salat. Awalnya, Allah mewajibkan salat 50 kali sehari. Namun, melalui proses negosiasi yang penuh kasih demi meringankan beban umatnya, jumlah tersebut ditetapkan menjadi 5 waktu sehari semalam. Meski jumlahnya berkurang, pahala yang dijanjikan tetaplah besar di sisi Allah.

Refleksi bagi Umat Modern

Baca Juga : Rudy Susmanto Perkuat Sinergi Dengan Paspampres RI, Jaga Keamanan dan Kelancaran Tugas Kenegaraan Di Kabupaten Bogor

Bagi umat Muslim saat ini, Isra’ Mi’raj adalah pengingat untuk:

Memperkuat Iman: Menyakini kekuasaan Allah yang melampaui logika manusia.

Memperbaiki Kualitas Salat: Memandang salat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana “Mi’raj” atau pertemuan spiritual seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Refleksi Diri: Meningkatkan pengabdian demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *