Rekam24.com, Bogor – Riuh rendah suara warga yang memeriksakan kesehatan dan deretan stan UMKM yang menjajakan produk lokal mewarnai halaman MAN 1 Kota Bogor, Senin (12/1/2026).
Di sana, perbedaan keyakinan bukan menjadi pembatas, melainkan warna yang mempercantik simfoni kebersamaan dalam acara Puncak Bhakti Lintas Agama.
Acara yang berlangsung khidmat ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia hadir sebagai bukti konkret bahwa Kota Bogor terus merawat “DNA” toleransinya di tengah dinamika zaman.
Baca Juga : Rudy Susmanto Tegaskan Penanganan Banjir Puspanegara Jadi Program Prioritas
Ketua Pelaksana Bhakti Lintas Agama, Dede Supriatna, mengungkapkan bahwa keberhasilan acara ini merupakan buah dari gotong royong berbagai lapisan masyarakat. Menurutnya, esensi sejati dari kegiatan ini adalah membumikan nilai-nilai solidaritas dalam bentuk yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kegiatan Bhakti Lintas Agama ini adalah simbol persatuan, toleransi, dan solidaritas. Perbedaan keyakinan sama sekali bukan halangan bagi kita untuk saling mengulurkan tangan. Justru perbedaan inilah yang memberi warna dalam kehidupan berbangsa kita,” ujar Dede dalam sambutannya yang disambut hangat oleh audiens.
Rangkaian kegiatan pun dirancang sangat inklusif. Mulai dari aksi donor darah yang menyatukan tetesan darah warga tanpa memandang latar belakang, cek kesehatan gratis bagi lansia dan warga kurang mampu, hingga bazar yang menggerakkan ekonomi pelaku UMKM lokal. Puncaknya, doa lintas agama dipanjatkan bersama sebagai wujud syukur atas kedamaian yang terjaga di “Kota Hujan”.
Baca Juga : Sambut 2026, AUJP Berbagi Kasih di Panti Asuhan Vincentius Putri
Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang hadir dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi tinggi. Baginya, kondusivitas yang dirasakan saat ini—di mana isu SARA sudah hampir tidak terdengar lagi—adalah modalitas utama bagi pembangunan wilayah.
“Selama kita kompak, insya Allah semua tantangan bisa diatasi dan dicari solusinya bersama. Persatuan adalah kunci. Saya melihat inilah DNA asli Kota Bogor; kota yang ramah dan terbuka bagi siapa saja,” tegas Dedie.
Ia juga menitipkan pesan khusus bagi generasi muda. Dedie berharap estafet kepemimpinan dan semangat kebangsaan ini tidak putus di generasi sekarang.
Baca Juga : GBLA Bergetar! Gol Cepat Beckham Putra Bawa Persib Unggul Sementara atas Persija
“Saya ingin ada generasi penerus yang melakukan hal serupa. Pertemuan seperti ini bukan hanya kumpul-kumpul biasa, tapi merupakan upaya menjalin persahabatan yang tulus antar anak bangsa,” tambahnya.
Pesan Kebangsaan dari Habib Luthfi
Puncak acara semakin bermakna dengan kehadiran ulama kharismatik, Habib Luthfi Bin Yahya. Dalam tausiahnya yang bernuansa ceramah kebangsaan, beliau membedah filosofi mendalam di balik bendera Merah Putih yang selama ini dianggap hanya sebagai simbol kain semata.
Habib Luthfi menekankan tiga pilar utama di balik bendera kebangsaan Kedaulatan Bangsa Simbol bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dan berdiri di atas kaki sendiri.
Harga Diri Bangsa Representasi kehormatan setiap warga negara di mata dunia. Jati Diri Bangsa Akar budaya dan identitas yang menyatukan ribuan suku dan agama.
“Jadi, menghormati Merah Putih itu bukan cuma gerakan fisik. Setiap individu harus paham makna kedaulatan di baliknya. Menjaga persatuan bangsa bukan hanya kewajiban pemerintah atau kelompok tertentu, tapi tanggung jawab setiap individu terhadap tanah airnya,” ucap Habib Luthfi dengan nada tegas namun menyejukkan.
Beliau menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa jika rasa cinta tanah air sudah tertanam dalam sanubari, maka sikap saling melindungi dan menghargai antar sesama manusia akan muncul secara alami.
Acara Bhakti Lintas Agama ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus menjaga Bogor sebagai kota yang toleran. Keberhasilan event ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa di bawah kibaran Merah Putih, perbedaan adalah kekuatan, dan kemanusiaan adalah bahasa yang dimengerti oleh semua agama.










