Rekam24.com, Iran– Situasi di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal balistik yang menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk, Minggu (1/3). Markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi salah satu sasaran utama dalam eskalasi militer ini.
Pihak berwenang Bahrain telah mengonfirmasi serangan yang menghantam instalasi vital tersebut. Video yang tersebar luas di media sosial memperlihatkan gumpalan asap hitam pekat membubung tinggi dari area pangkalan tak lama setelah ledakan terdengar. Menanggapi situasi darurat ini, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mendesak seluruh warga untuk segera mencari tempat berlindung dan mengikuti protokol keselamatan.
Selain Bahrain, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran juga membidik pangkalan militer AS yang tersebar di empat negara lainnya, yakni, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi.
Baca Juga : Eskalasi Puncak: Israel dan AS Lancarkan Serangan Militer Besar-Besaran ke Iran
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa di Qatar, setidaknya dua rudal balistik berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara sebelum mengenai sasaran.
Teheran menegaskan bahwa operasi militer ini merupakan balasan langsung atas serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2).
Seorang pejabat senior Iran memberikan pernyataan tegas bahwa peta kekuatan di kawasan telah berubah. Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak lagi mengenal batas dalam membela kedaulatan negara.
Baca Juga : GMKB Dukung Penuh Keputusan Wali Kota Bogor Terkait Pelantikan Direksi PDAM Tirta Pakuan
“Semua aset dan kepentingan Amerika serta Israel di Timur Tengah kini telah menjadi target yang sah. Tidak ada lagi garis merah setelah serangan terhadap Iran,” tegas pejabat tersebut kepada Al Jazeera.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pentagon belum memberikan rincian mengenai jumlah korban jiwa maupun total kerugian material akibat serangan serentak ini. Ketegangan di kawasan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan ancaman balasan lanjutan dari kedua belah pihak.










