Catatan Redaksi 1 Tahun Dedie Rachim – Jenal Mutaqin

Dedie A. Rachim menyampingkan ego nya untuk tidak menanamkan legacy.Tapi Ia memilih melanjutkan perencanaan yang sudah direncanakan

Rekam24.com, Bogor – Setiap kabupaten/kota di Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam melaksanakan pembangunan.

Setiap pemimpin memiliki cara dan karakter tersendiri dalam memimpin.

Namun tak banyak kepala daerah yang memiliki karakter visioner dalam membangun.

Tak bisa dipungkiri ada kepala daerah yang mengabaikan berbagai perencanaan yang sudah tertuang dalam peraturan daerah rencana tata ruang bahkan rencana pembangunan jangka panjang dan lebih memilih untuk membangun legacy dengan menimbun yang sudah dibangun dengan bangunan baru, mengabaikan perencanaan yang sudah direncanakan sejak dulu dan harus memerlukan waktu yang panjang untuk terealisasi.

Baca Juga : Satu Tahun Kepemimpinan Dedie-Jenal: Fondasi Kuat untuk Penataan Bogor Masa Depan

Di Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyampingkan ego nya untuk tidak menanamkan legacy.

Tapi Ia memilih melanjutkan perencanaan yang sudah direncanakan sejak jauh jauh hari dari para pemimpin terdahulu.

Seperti Jalan Regional Ring Road atau R3 yang mati suri kini kembali dilanjutkan sebagai penghubung Cibinong – Bogor Utara – Bogor Timur hingga Ciawi.

Jalan Ring Road yang sudah direncanakan sejak belasan tahun lalu kini sedikit demi sedikit kembali dihidupkan sebagai penghubung kawasan Sentul, Babakan Madang, Sukaraja dengan Bogor Utara dan Bogor Timur yang akan tersambung dengan R3.

Baca Juga : Ramadan on the Road 2026: Edukasi Safety Driving Sambil Berbagi di Kota Bogor

Jalan Bogor Inner Ring Road yang juga belasan tahun tak tersentuh kini mulai dihidupkan yang akan menghubungkan kawasan Ciawi, Bogor Timur, Bogor Selatan hingga Bogor Tengah.

Jika tidak ada political will maka Kota Bogor hanya akan jalan ditempat, hanya pembangunan minor dan pekerjaan minor yang akan membuat Kota Bogor semakin tertinggal.

Dibidang pendidikan sebanyak 107 sekolah di Kota Bogor direvitalisasi dan ditambah ruang kelas baru. Tak hanya itu sebanyak 100 anak pra sejahtera telah mengikuti sekolah rakyat, enam sekolah baru dibangun, sekolah garuda untuk para siswa siswi unggul yang akan disiapkan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri lun tengah disiapkan.

Baca Juga : 75 Artefak Nabi Muhammad SAW Dipamerkan Gratis di Bogor, Rudy Susmanto: Momentum Bangkitkan Spirit Ramadan

Tak hanya itu ratusan anak pra sejahtera dan anak SMA sederajat juga telah menerima beasiswa untuk menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Dibidang transportasi, Kota Bogor menjadi 1 dari 11 daerah di Indonesia yang memiliki transportasi massal.

Biskita yang sempat terhenti di tahun 2024 pada tahun 2025 oleh Dedie A. Rachim kembali dihidupkan melalui APBD.

Tidak berhenti disitu bekerja sama dengan Pemprov DKI, Kota Bogor bekerjasama untuk menghadirkan layanan transjabodetabek dari Cidangiang Bogor menuju Blok M.

Baca Juga : Resmi Dibuka, BIIFest 2026 Jadi Magnet Ekonomi dan Religi Warga Bogor

Sektor ekonomi, melalui kebijakan efisiensi Dedie A. Rachim mengalihkan berbagai anggaran yang tidak begitu penting untuk program padat karya menggerakan ekonomi rakyat

Ratusan lapangan kerja dengan serapan ribuan tenaga kerja terus diperluas melalui jobfair dan telah terbukti menyerap tenaga kerja.

Di Bidang lingkungan hidup Dedie A. Rachim tak bosan untuk mengingatkan agar jangan membuang sampah sembarangan dan terus menggelorakan aksi kebersihan.

Dihulu, Dedie A. Rachim berhasil meraih kepercayaan pemerintah pusat untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah atau pengolahan sampah menjadi listrik.

Tam hanya satu, namun akan ada tiga pengelolaan sampah menjadi energi listrik yang akan dibangun

Disamping program berkelanjutan itu hal hal lain yang menjadi 30 urusan program utama atau skala prioritas terus dilanjutkan

Kegawatdaruratan dibangun PSC 119 yang kini menjadi tulang punggung masyarakat dalam mengakses layanan kedaruratan kesehatan. Tak ada lagi rumah sakit yang beralasan tidak ada kamar, tak ada lagi warga yang kesulitan mengakses ruang rawat inap dan sebagainya.

Itu semua tanpa karakter pemimpin yang visioner dan memiliki political will untuk kemajuan kotanya tidak akan terwujud.

Karena pemimpin yang memiliki ego sektoral akan membangun legacy tanpa memikirkan keberlanjutan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *