Rekam24.com, Bogor – Kasus dugaan keracunan makanan massal menimpa puluhan pelajar di Kabupaten Bogor. Sebanyak 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua terpaksa dilarikan ke RSUD Cisarua setelah mengeluhkan pusing dan mual mendadak usai beraktivitas di sekolah.
Guna mengantisipasi dampak susulan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor tidak hanya mengandalkan perawatan di RSUD, tetapi juga menerjunkan tim medis untuk melakukan pemantauan intensif langsung ke rumah-rumah para siswa.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan bahwa penanganan medis awal telah diberikan secara merata kepada seluruh korban, baik yang bergejala ringan maupun sedang. Sebagian besar siswa bahkan sempat mendapat asupan cairan infus demi mencegah dehidrasi parah.
Baca Juga : Puluhan Siswa SMP Leuwimalang Cisarua Bogor Dilarikan ke RSPG, Diduga Keracunan Program MBG
“Total ada 103 siswa yang ditangani. Mayoritas sudah diperbolehkan pulang, dan tersisa satu siswa yang masih dalam observasi mendalam oleh tim medis,” ujar Rudy saat memberikan keterangan.
Rudy menekankan pentingnya kepastian pemulihan fisik para pelajar sebelum mereka diizinkan kembali ke lingkungan keluarga. Penanganan terpusat di RSUD Cisarua ini juga mencakup penyediaan asupan nutrisi yang aman setelah kondisi vital para siswa dinyatakan stabil.
Sebagai bentuk komitmen perlindungan masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor bersama Puskesmas setempat dan RSUD Cisarua meluncurkan program door-to-door. Petugas kesehatan mendatangi kediaman para siswa yang sempat terindikasi keracunan untuk memastikan tidak ada keluhan berulang pasca-perawatan medis.
Baca Juga : Pemkab Bogor Tanam Pohon di 220 Hektare Lahan, Hutan Kota Pakansari Terus Dikembangkan
Langkah ini diambil untuk menjamin kondisi fisik para murid benar-benar pulih total sebagaimana saat mereka berangkat sekolah.
Mengenai pemicu utama insiden ini, Pemkab Bogor memilih bertindak hati-hati dan menolak berspekulasi sebelum ada bukti ilmiah.
“Kami belum bisa mempublikasikan penyebab pastinya sebelum hasil pengujian laboratorium resmi keluar,” kata Rudy.
Jika nantinya sampel laboratorium mengarah pada indikasi tertentu, Pemkab Bogor siap memberikan rekomendasi resmi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Badan Gizi Nasional (BGN). Terkait potensi penghentian sementara operasional penyedia makanan, Rudy menegaskan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di ranah BGN, sedangkan Pemkab Bogor berfokus penuh pada keselamatan dan layanan kesehatan warga.
Selain fokus medis, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor bersama pihak terkait tengah mengevaluasi kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMPN 2 Cisarua. Opsi untuk meliburkan sementara aktivitas sekolah masih akan didiskusikan sembari memprioritaskan pemulihan fisik dan mental para siswa.





