Rekam24.com, Bogor – Tuk tik tak, tik tuk, tik tak tik tuk, suara sepatu kuda berpacu dengan decak langkah wisatawan di wilayah aglomerasi.
Alun-alun Kota Bogor seperti jantung aglomerasi yang menjadi kunjungan wisatawan dari wilayah Cianjur, Sukabumi, serta Jabodetabek.
Lokasinya yang strategis berada di simpul aglomerasi dengan transportasi terintegrasi kereta Pangrango dan commuter line.
Baca Juga : Juni, Target Groundbreaking PSEL Bogor Raya
Perputaran ekonomi di kawasan tersebut mencapai ratusan juta setiap bulan dan bisa miliaran rupiah setiap tahunya.
Seorang kusir delman Ian (23) asal Cimanggu, mengatakan bahwa Alun-Alun dan area Stasiun Bogor menjadi lokasi favorit karena merupakan titik pertemuan wisatawan.
Pesona delman sebagai ikon wisata di Kota Bogor masih bertahan di tengah gempuran transportasi modern. Meski harus berhadapan dengan penertiban petugas Dinas Perhubungan (Dishub), para kusir delman tetap memilih mangkal di kawasan Alun-Alun Bogor demi mengejar omset di akhir pekan.
Baca Juga : Peraih Emas Porprov Diguyur Rp100 Juta
“Kalau ada Dishub memang dilarang, saya pindah ke atas di Jalan Juanda dekat Balai Kota. Bisa dibilang ya kucing-kucingan sama petugas,” ujar Ian saat ditemui di kawasan Alun-Alun Bogor..
Terkait tarif, Ian mematok harga Rp50.000 untuk satu kali putaran rute pendek meliputi Balai Kota, Hotel Salak, dan Pasar Anyar. Tarif tersebut berlaku untuk satu kereta delman tanpa hitungan per kepala.
Namun untuk memutar ke Kebun Raya Bogor tarif yang dipatok Rp.100.000 satu kali putaran
Pada hari kerja, minat masyarakat naik delman cenderung sepi. Namun, saat akhir pekan (weekend), penghasilan kusir delman bisa meningkat drastis. Pendapat rata-rata perhari Ian mencapai Rp.300.000 – Rp.350.000 per hari, namun saat ramai seperti akhir pekan bisa mencapai Rp. 500.000 per hari.
Baca Juga : Diduga Cekcok dengan Pacar, Seorang Perempuan Nekat Terjun ke Jurang Paledang Bogor
Menekuni profesi ini sejak tahun 2000-an karena kecintaan pada hewan, Ian menjelaskan bahwa merawat kuda memerlukan ketelatenan ekstra agar tetap sehat dan tidak kurus. Kuda miliknya diberi makan tiga kali sehari, namun pemberian minum dibatasi saat sedang bekerja.
“Kalau lagi dibawa jalan begini, minum paling nanti pas pulang. Kalau di jalan (dikasih minum) takut sakit perut karena kudanya dipakai lari-larian,” jelasnya.
Meski sering ditegur dan diminta pindah oleh petugas, Ian tetap berharap adanya ruang pangkalan yang lebih permanen dan legal di titik-titik keramaian agar para penyedia jasa transportasi tradisional ini bisa mencari nafkah dengan lebih tenang.









