Piala Dunia 2026 Sepi Peminat, Pedagang Jersey Bogor Pilih Main Aman

Gelaran Piala Dunia 2026 ternyata belum membawa angin segar bagi para pedagang jersey dan atribut sepak bola di pasar tradisional.

Rekam24.com, Bogor – Gelaran Piala Dunia 2026 ternyata belum membawa angin segar bagi para pedagang jersey dan atribut sepak bola di pasar tradisional. Kondisi ekonomi yang dinilai masih lesu membuat pedagang memilih berhati-hati dan tidak berani menumpuk stok barang akibat sepinya permintaan.

Sandy (70), seorang pedagang pakaian yang telah berjualan hampir 40 tahun di pasar tradisional Bogor, mengaku saat ini masih memantau perkembangan minat masyarakat sebelum menyetok jersey dalam jumlah besar. Menurutnya, meski sudah ada beberapa calon pembeli yang datang bertanya, gairahnya belum cukup kuat untuk mendorong pedagang menambah pasokan.

“Kalau sekarang kita lihat pasarnya dulu. Ada yang datang tanya-tanya baru kita pertimbangkan. Kalau memang ada permintaan, baru kita sediakan,” ujar pedagang yang akrab disapa Sandy tersebut.

Baca Juga : Dua Perampok Gasak Honda Beat di Rancabungur, Korban Ditendang Hingga Terjatuh

Ia menuturkan, penjualan atribut sepak bola sangat bergantung pada tren dan antusiasme sesaat. Berbeda dengan kebutuhan pokok seperti seragam sekolah yang selalu dicari, jersey tim nasional memiliki risiko kerugian yang tinggi jika tidak laku setelah turnamen berakhir.

“Nggak berani stok banyak. Kalau permintaan melonjak baru kita tambah. Kalau pasarnya sepi, stoknya lama habis dan malah menumpuk. Risiko jualan baju memang seperti itu,” katanya.

Menurut Sandy, pada momen Piala Dunia sebelumnya selalu ada peningkatan penjualan meskipun tidak terlalu masif. Namun untuk tahun ini, ia belum melihat adanya geliat pasar yang signifikan. Kondisi ini diperparah oleh menurunnya daya beli masyarakat serta ketatnya persaingan dari toko online.

Baca Juga : Start Sempurna Meksiko dan Korea Selatan di Piala Dunia 2026

Ia mengungkapkan, omzet penjualan pakaian di kiosnya saat ini merosot tajam hingga 50 persen dibandingkan beberapa tahun lalu. Imbas sepinya transaksi, banyak rekan sesama pedagang di pasar yang akhirnya memilih untuk menutup kios mereka.

“Sekarang penjualan turun sangat jauh, bisa sampai 50 persen. Lihat saja, hari ini juga banyak kios yang tutup,” ungkapnya.

Meski demikian, Sandy meyakini Piala Dunia tetap memiliki segmen pasar tersendiri. Biasanya, pembeli baru akan berburu jersey ketika tim atau negara favorit mereka mulai berlaga dan menunjukkan performa apik di turnamen.

Untuk menyiasati situasi, produk yang saat ini menjadi andalan pedagang adalah pakaian sekolah dan kebutuhan sehari-hari yang permintaannya jauh lebih stabil. Sementara untuk jersey, mereka memilih mode bertahan sambil menunggu momentum pertandingan dimulai.

“Saya tidak terlalu optimis untuk tahun ini. Kondisi ekonomi sekarang membuat pembeli berkurang, dan pedagang pun tidak berani ambil risiko,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *