Rekam24.com, Jendela Fiksi – PEMUDA DAN SEGALA CINTANYA, Malam itu, langit menggantung gelap seperti kain hitam yang tak pernah dicuci. Angin berhembus pelan, menggesek daun-daun di halaman belakang rumah. Detak jam dinding terdengar sangat jelas, seolah waktu sendiri yang ingin dihitung.
Aku duduk di tepi jendela kamar, memeluk lutut. Di luar sana, malam begitu sunyi. Di dalam sini, hatiku lebih sunyi lagi.
Aku ingat wajahnya. Senyumnya yang selalu sedikit miring ke kiri. Cara dia tertawa saat mendengar lelucon buruk. Cara matanya menyipit ketika memikirkan sesuatu. Aku menyimpannya semua di tempat yang paling dalam, tempat yang bahkan aku sendiri jarang berani kunjungi.
“Tak terucapkan,” gumamku pelan.
Bersembunyi ku di balik dinding.
Menari ku di alam mimpi.
Berkhayal ku di atas awan.
Berfikir ku di luar logika.
Iya, dia yang di sana.
Tidak, karena dia tak tahu.
Bukan, dia punya yang lain.
Jangan, karena ku tak bernyali untuk dia.
Benar. Aku hanya titipkan rasa sayang pada angin yang berhembus di tiap malam. Angin yang sama yang sekarang mengusap rambutku lewat jendela yang sedikit terbuka.
Aku menutup mata. Malam ini terasa lebih sepi dari biasanya.
Awan begitu gelap.
Ku merenung sendiri sangat sunyi
sampai gesekan angin di daun terdengar begitu lembut.
Harmoni jangkrik terdengar merdu.
Inilah sepi, sampai detak jam pun terdengar jelas.
Aku membuka mata lagi. Caha
ya lampu jalan di kejauhan tampak seperti satu-satunya bintang yang tersisa. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, menjadi satu-satunya yang menemaniku.
“Untuk malam, sahabatku,” bisikku.
Berasa jenuh.
Itu manusiawi.
Tak ada yang berbeda di tiap malam.
Kadang ingin keluar untuk menikmati gelapmu.
Tak ada dusta yang kulihat saat malam.
Tak ada kemunafikan saat gelap.
Semua keburukan hidup tertutup oleh hitammu.
Hanya satu cahaya yang indah yang kulihat.
Aku tersenyum tipis. Malam memang jujur. Dia tidak pernah berpura-pura. Dia menerima semua yang kuceritakan tanpa menilai. Tanpa menertawakan. Tanpa meninggalkan.
Aku berdiri, membuka jendela
lebih lebar. Angin masuk lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan daun basah. Aku mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh sesuatu yang tak terlihat.
“Menitip salam pada angin,” kataku pelan.
“Terbawa oleh gesekan daun.
Lelap di alam mimpi sampai terbangun.
Semoga salam itu sampai pada sahabatku malam.”
Angin menjawab dengan tiupan yang lebih lembut. Daun-daun bergoyang pelan, seolah mengangguk. Jangkrik tetap bernyanyi. Jam terus berdetak.
Aku kembali duduk. Kali ini tidak lagi memeluk lutut. Aku hanya menatap gelap di luar sana, membiarkan sepi itu menemaniku tanpa melawan.
Mungkin cinta yang tak terucapkan memang tidak akan pernah sampai.
Mungkin dia tidak akan pernah tahu.
Mungkin dia memang punya yang lain.
Tapi malam… malam selalu ada.
Dan untuk malam ini, itu sudah cukup.
Aku menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tertidur tanpa memikirkan apa-apa lagi.








