<script type=”application/ld+json”>
{
“@context”: “https://schema.org”,
“@type”: “NewsArticle”,
“headline”: “Judul Artikel Lengkap di Sini”,
“image”: [
“https://rekam24.com/wp-content/uploads/…/gambar-utama.jpg”
],
“datePublished”: “2026-07-14T10:30:00+07:00”,
“dateModified”: “2026-07-14T11:45:00+07:00”,
“author”: {
“@type”: “Person”,
“name”: “Nama Jurnalis”,
“url”: “https://rekam24.com/author/nama-jurnalis/”
},
“publisher”: {
“@type”: “Organization”,
“name”: “Rekam24”,
“logo”: {
“@type”: “ImageObject”,
“url”: “https://rekam24.com/wp-content/uploads/logo-rekam24.png”
}
},
“description”: “Ringkasan meta description artikel (150-160 karakter)”,
“mainEntityOfPage”: {
“@type”: “WebPage”,
“@id”: “https://rekam24.com/slug-artikel/”
},
“keywords”: [“bogor”, “transportasi”, “berita bogor”],
“articleSection”: “Daerah”,
“inLanguage”: “id-ID”
}
</script>
Rekam24.com, Jakarta – Penggunaan kecerdasan buatan generatif (GenAI) yang semakin krusial dalam operasional bisnis memaksa organisasi di Asia Pasifik menata ulang model infrastruktur lama. Arsitektur cloud tersentralisasi terbukti tidak lagi mampu memenuhi tuntutan skala, kecepatan, dan kepatuhan yang terus meningkat.
Temuan itu tertuang dalam laporan riset terbaru IDC yang disusun untuk Akamai Technologies, perusahaan keamanan siber dan komputasi cloud global. Laporan berjudul “The Edge Evolution: Powering Success from Core to Edge” menunjukkan bahwa bisnis di kawasan Asia Pasifik (APAC) kini perlu memperkuat strategi infrastruktur mereka dengan layanan edge agar tetap kompetitif, memenuhi regulasi, dan siap mengimplementasikan AI secara nyata.
Pergeseran ini disebut sebagai “Evolusi Edge”. IDC memperkirakan pada 2027, 80 persen Chief Information Officer (CIO) akan beralih dari penyedia cloud ke layanan edge untuk memenuhi kebutuhan performa dan kepatuhan inferensi AI.
Celah Besar di Arsitektur Cloud Saat Ini
Meski 31 persen perusahaan di APAC sudah menggunakan aplikasi GenAI dalam tahap produksi dan 64 persen lainnya masih dalam tahap uji coba, momentum pesat ini menyingkap sejumlah celah serius. Kompleksitas multicloud menjadi kendala bagi 49 persen perusahaan karena inkonsistensi alat dan fragmentasi manajemen data.
Selain itu, 50 persen dari 1.000 organisasi teratas di APAC menghadapi kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan regulasi dan standar kepatuhan. Kenaikan biaya cloud yang tak terduga diidentifikasi sebagai tantangan utama oleh 24 persen organisasi. Model cloud hub-and-spoke konvensional juga menyebabkan latensi yang menghambat aplikasi AI real-time.
“Hasil penelitian IDC ini mengungkap bagaimana bisnis di Asia Pasifik mengadopsi infrastruktur berbasis edge yang lebih terdistribusi untuk memenuhi kebutuhan performa, keamanan, dan biaya beban kerja AI modern,” kata Parimal Pandya, Senior Vice President Sales dan Managing Director Asia Pasifik di Akamai Technologies.
Senada dengan itu, Daphne Chung, Research Director di IDC Asia Pasifik, menekankan bahwa strategi edge kini diterapkan secara aktif untuk memenuhi tuntutan kecerdasan, kepatuhan, dan skala di dunia nyata.
Gambaran di Beberapa Negara APAC
Laporan tersebut juga menyoroti dinamika di sejumlah negara. Tiongkok memimpin perluasan GenAI dengan dominasi edge dan cloud publik. Jepang mempercepat infrastruktur AI meskipun masih terdapat kesenjangan kematangan digital. India mengembangkan infrastruktur edge untuk memenuhi permintaan GenAI sekaligus mengelola biaya. Sementara negara-negara ASEAN mengadopsi GenAI dengan strategi edge-first, terutama di luar ibu kota.
Rekomendasi untuk Perusahaan
Agar tetap berada di garis depan, perusahaan disarankan memodernisasi infrastruktur di cloud dan edge, serta menyelaraskan penerapan dengan kebutuhan spesifik tiap beban kerja. Pengamanan data melalui kerangka kerja Zero Trust dan kepatuhan berkelanjutan menjadi krusial. Interoperabilitas juga perlu dijaga untuk menghindari vendor lock-in.
Dengan memanfaatkan mitra ekosistem, bisnis dapat mempercepat penerapan AI dan meningkatkan skala secara lebih cepat, cerdas, dan fleksibel.
Laporan IDC-Akamai ini menjadi sinyal kuat bahwa era cloud tersentralisasi saja sudah tidak cukup. Perusahaan yang ingin memaksimalkan potensi GenAI harus segera beralih ke arsitektur edge yang lebih terdistribusi.








