Rekam24.com, Bogor – Pihak SMP Negeri 3 Kota Bogor memastikan siswa yang menjadi korban perundungan atau bullying mendapatkan pendampingan intensif dari Guru Bimbingan Konseling (BK) dan tim Kesiswaan.
Pendampingan tersebut dilakukan sejak pihak sekolah mengetahui adanya kejadian yang menimpa salah satu siswanya. Langkah itu menjadi bagian dari upaya sekolah untuk membantu memulihkan kondisi mental korban sekaligus memastikan lingkungan belajar tetap aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Kepala SMPN 3 Kota Bogor, Reni Supriarti, menyampaikan keprihatinan sekaligus kekecewaannya atas kejadian tersebut. Meski demikian, pihak sekolah mengapresiasi iktikad baik kedua belah pihak yang telah menempuh proses mediasi hingga mencapai kesepakatan damai.
Baca Juga : Debat Pilwalkot Bogor 2024: Adu Strategi Tangani Bullying dan KDRT, Siapa Paling Konkret
“Saya mewakili pihak sekolah merasa kecewa dan tidak menyangka ada kejadian ini. Alhamdulillah, orang tua korban sudah memaafkan dan akhirnya terjadi kesepakatan dengan orang tua pelaku,” ujar Reni, Kamis (13/8/2026).
Reni menjelaskan, langkah sekolah mengumpulkan para siswa dan mempertemukan pihak-pihak terkait bukan semata-mata untuk mencari siapa yang bersalah.
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh siswa merasa aman ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Baca Juga : Kasus Es Gabus, IPW Minta Oknum Aparat Diperiksa Kode Etik
“Inisiatif ini kami ambil bukan untuk mencari kesalahan, melainkan demi melindungi anak-anak kami. Kami ingin memastikan mereka tidak merasa takut atau khawatir saat datang ke sekolah,” katanya.
Reni menambahkan, proses mediasi dan kesepakatan antara pihak keluarga juga menjadi bagian dari upaya mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
“Jika tidak dipertemukan dan dibuat kesepakatan, kami khawatir kejadian serupa bisa terulang di masa mendatang,” tegasnya.
Terkait kondisi korban, Reni memastikan sekolah tidak berhenti pada proses mediasi. Pendampingan terhadap siswa masih terus dilakukan oleh Guru BK bersama tim Kesiswaan.
“Mengenai tindak lanjut untuk korban, tentunya akan terus didampingi oleh BK dan Kesiswaan,” ujar Reni.
Ia mengatakan pendampingan telah berjalan sejak awal pihak sekolah mengetahui kejadian tersebut. Fokusnya adalah membantu korban melewati situasi yang dialami dan memulihkan kondisi psikologisnya.
“Sejak pertama kali kami mengetahui kejadian ini, pendampingan terus berjalan untuk memulihkan kondisi mental siswa kami,” tutup Reni.
Pihak sekolah berharap penyelesaian yang telah ditempuh dapat menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap keamanan dan kenyamanan siswa sekaligus mencegah terjadinya perundungan di lingkungan sekolah.








