Rekam24, -Jakarta, – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendorong kalangan berpenghasilan tinggi dan orang kaya di Indonesia untuk semakin aktif menyimpan aset dalam bentuk dolar AS. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan lonjakan signifikan jumlah rekening simpanan berdenominasi USD, terutama pada segmen nominal besar di atas Rp5 miliar.
Artikel CNBC Indonesia yang terbit hari ini (20 September 2026 sekitar pukul 12:40 WIB) menjadi salah satu topik yang ramai dibahas, sejalan dengan pergerakan pasar valas dan dampak kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang baru-baru ini menaikkan suku bunga.
Data Utama dari LPS
Menurut data distribusi rekening simpanan LPS per Mei 2026:
- Jumlah rekening USD mencapai 8.918.054, naik 58,2% year-on-year (yoy). Angka ini setara 1,3% dari total rekening simpanan masyarakat Indonesia.
- Sebagai perbandingan, rekening rupiah hanya tumbuh 8,4% yoy menjadi 673.138.861 rekening (98,7% dari total).
- Kenaikan paling mencolok terjadi pada rekening dengan tiering nominal di atas Rp5 miliar. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyatakan, “Yang jumlah yang di atas Rp5 miliar yang naik. Ya itu naik kelas, cuma jumlahnya memang naik.”
Secara nominal, simpanan valuta asing (valas) keseluruhan naik 18,7% yoy menjadi setara Rp1.714,76 triliun (porsi 16,6% dari total simpanan). Sementara simpanan rupiah mencapai Rp8.615,16 triliun (naik 12,4% yoy, porsi 83,4%).
Tren serupa berlanjut pada data Juni 2026 di mana pertumbuhan rekening USD bahkan lebih tajam di beberapa laporan sebelumnya, didorong baik oleh nasabah ritel affluent maupun korporasi.
Alasan di Balik Tren Ini
- Pelemahan Rupiah sebagai Lindung Nilai (Hedge)
Rupiah melemah sepanjang pekan lalu dan ditutup di sekitar Rp17.730–Rp17.758 per USD pada Jumat (18 September 2026). Kurs tengah BI hari ini (20 September 2026) berada di sekitar Rp17.753. Banyak kalangan high-net-worth individuals (HNWI) melihat dolar AS sebagai aset safe-haven untuk melindungi nilai kekayaan dari depresiasi rupiah. - Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE)
Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2026 mewajibkan penempatan 100% DHE sumber daya alam di bank Himbara mulai efektif. Meskipun Anggito Abimanyu menegaskan dampak penuh baru terlihat September 2026, Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi sebelumnya menyebut masuknya DHE ke bank BUMN ikut mendorong pertumbuhan rekening dolar. - Penguatan Dolar AS Global
Indeks Dolar AS (DXY) berada di level sekitar 100,2 setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% pada pertemuan September 2026 (kenaikan pertama sejak 2023). Sinyal hawkish The Fed (kemungkinan kenaikan tambahan) memperkuat daya tarik aset berdenominasi USD.
Analisis Dampak dan Perspektif Lebih Luas
Tren ini mencerminkan perilaku “dollarization” parsial di kalangan orang kaya RI. Di satu sisi, ini menunjukkan kepercayaan pada stabilitas dolar AS sebagai mata uang cadangan global. Di sisi lain, lonjakan permintaan dolar dapat menambah tekanan pada cadangan devisa dan nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi aliran masuk devisa atau intervensi Bank Indonesia.
Dampak positif potensial:
- Likuiditas valas di perbankan meningkat, terutama bank BUMN.
- Eksportir lebih patuh menempatkan hasil ekspor di dalam negeri.
Risiko yang perlu diwaspadai:
- Pelemahan rupiah lebih lanjut jika spekulasi atau hedging massal berlanjut.
- Potensi outflow jika sentimen global terhadap AS berubah (misalnya terkait utang nasional AS yang sudah tembus US$40 triliun beberapa bulan lalu).
- Ketimpangan: pertumbuhan rekening besar jauh lebih cepat dibanding rekening kecil, mencerminkan preferensi segmen affluent.
Analis pasar menilai pelemahan rupiah ke depan masih bergantung pada data ekonomi AS, kebijakan The Fed selanjutnya, harga minyak, dan stabilitas geopolitik. Proyeksi sementara untuk pekan depan berada di kisaran Rp17.650–Rp18.000 per USD.






