Rekam24.com, Bogor – Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, memberikan apresiasi tinggi atas peresmian dan pengembangan kawasan Eiger Nature di Kampung Terobogor, Jawa Barat. Setelah melalui proses persiapan dan pengembangan selama kurang lebih lima tahun, Eiger—yang selama ini dikenal sebagai jenama lokal andalan perlengkapan luar ruang—kini resmi memperluas kontribusinya ke sektor atraksi dan pengalaman wisata berbasis alam (ecotourism).
Langkah strategis ini dinilai sangat sejalan dengan tren pariwisata global dan nasional saat ini. Berdasarkan Indonesia Tourism Outlook 2026-2027, Eco-Friendly Tourism kini menempati peringkat ketiga, sementara Nature and Adventure Based Tourism berada di peringkat kelima dari tren utama yang paling diminati wisatawan. Selain itu, survei Agoda Sustainable Travel Survey 2026 mencatat bahwa 93% wisatawan Indonesia kini secara aktif mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih destinasi perjalanan mereka.
Pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia sendiri menunjukkan tren yang sangat positif. Pada tahun 2025, investasi sektor pariwisata tercatat menembus angka Rp73,56 triliun (melonjak 56,05% dibanding tahun sebelumnya), dan tren ini terus berlanjut pada semester pertama tahun ini dengan realisasi mencapai Rp39,68 triliun.
Baca Juga : Target 3 Medali Emas, Tim Drum Band Kota Bogor Siap Tampil All Out di Porprov Jabar 2026
Kehadiran Eiger Nature menjadi contoh nyata bagaimana investasi pariwisata berkualitas mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Saat ini, kawasan tersebut telah menyerap sekitar 600 tenaga kerja dari penduduk setempat, dengan proyeksi penyerapan hingga 2.000 pekerja pada tahap investasi berikutnya.
Dalam sambutannya, Menteri Pariwisata juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan mitigasi risiko bencana, mengingat wilayah pegunungan memerlukan pengawasan lingkungan yang ketat.
Menanggapi hal tersebut,, Founder & Chairman PT Eigerindo Multi Prodak Industri, Rony Lukito, menegaskan bahwa pihaknya sangat berhati-hati dalam mengelola kawasan konservasi ini. Meskipun regulasi memperbolehkan pemanfaatan hingga 10% di zona Taman Nasional Gede Pangrango, Eiger Nature saat ini hanya menggunakan 1,5%—bahkan hanya sekitar 0,5% jika dihitung dari struktur bangunan berpanggung yang menjaga agar resapan air dan ekologi tanah tidak terganggu.
Baca Juga : MBG Kembali Memakan Korban! Ratusan Siswa SMPN 1 dan 2 Dramaga Mual-Mual, 20 Masih Kritis di RS
Begitu pula di lahan PTPN, dari batas Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang diizinkan sebesar 40%, Eiger Nature hanya menggunakan sekitar 8% (termasuk area parkir seluas 5 hektar), dengan luas bangunan murni hanya sekitar 2,6%.
Eiger Nature tidak hanya fokus pada pariwisata, tetapi juga berhasil merestorasi lahan kritis eks-kebun teh. Hingga kini, sekitar 120.000 pohon tegakan dan 8 juta tanaman perdu/ground cover telah ditanam untuk memulihkan ekosistem.
Sebagai kawasan penyangga penting di wilayah Puncak/Bogor, Eiger Nature menerapkan konsep-konsep ramah lingkungan tingkat lanjut, di antaranya:
Zero Run Off: Sistem pengendalian air hujan melalui sumur resapan dan kolam retensi untuk mencegah limpasan air.
Zero Waste: Pusat pengolahan sampah mandiri seluas kurang lebih 2.000 meter persegi yang dikembangkan bersama akademisi/pakar (Profesor dari Bogor) dan sekaligus difungsikan sebagai pusat edukasi bagi pelajar serta mahasiswa.
Energi Hijau (Green Energy): Memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang telah tersertifikasi.
Dengan mengintegrasikan prinsip konservasi, edukasi, petualangan, dan pemberdayaan masyarakat, Eiger Nature diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata alam yang aman, nyaman, dan berkesan bagi wisatawan Nusantara maupun mancanegara, tetapi juga menjadi teladan baru bagi investasi pariwisata berkualitas di Indonesia.





