Rekam24.com, Bogor – Tantangan pembangunan daerah kini tak lagi sebatas persoalan efisiensi anggaran daerah. Masalah lingkungan hidup, pengelolaan sampah harian, hingga ancaman krisis iklim telah menjadi ancaman nyata yang menuntut respons cepat para pemimpin daerah.
Menjawab tantangan tersebut, Komisariat Wilayah (Komwil) III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) berkumpul di Balai Kota Bogor pada Senin (28/9/2026). Melalui forum bergengsi Mayors Talk 2026: Climate and Urban Resilience, para kepala daerah berkomitmen merumuskan usulan strategis yang akan disorongkan menjadi kebijakan nasional.
Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, menegaskan bahwa forum tahunan ini bukan sekadar panggung tukar pengalaman (horizontal learning), melainkan wahana penentu arah kebijakan perkotaan di Indonesia.
Baca Juga : Munaslub APEKSI Mencapai Rp 6 miliar.
“Diskusi ini diarahkan untuk melahirkan poin-poin konkret yang nantinya disuarakan ke pemerintah pusat sebagai rekomendasi kebijakan nasional,” ujar Alwis di sela-sela acara malam ramah tamah APEKSI.
Alwis menambahkan, masyarakat perlu memahami bahwa beban kota masa kini makin kompleks. Selain tantangan fiskal dan ruang gerak anggaran yang terbatas, isu ketahanan lingkungan hidup dan ancaman perubahan iklim menjadi ujian berat yang harus diselesaikan bersama.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyoroti pentingnya sinergi antardaerah dalam menghadapi segala bentuk keterbatasan. Menurutnya, sebuah kota bisa pulih dan bertahan (resilient) jika mampu membangun ekosistem kolaborasi yang solid.
Baca Juga : Masinis KA Argo Bromo Anggrek Resmi Jadi Tersangka Tragedi Tabrakan di Bekasi
“Dalam situasi yang serba terbatas, baik secara fiskal maupun daya dukung lingkungan, kita wajib merancang solusi adaptif. Mengembalikan ketangguhan kota hanya bisa dicapai melalui kemitraan erat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat,” tutur Dedie.
Pandangan senada disampaikan Wakil Ketua Bidang Kerja Sama APEKSI yang juga Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid. Ia menilai ketangguhan sebuah kota berawal dari mentalitas para pemimpinnya yang pantang menyerah meski dihadapkan pada persoalan klasik seperti masalah persampahan dan keterbatasan infrastruktur.
Menariknya, Afzan memberikan apresiasi khusus terhadap pendekatan inovatif yang diterapkan Kota Bogor, salah satunya dalam memberdayakan generasi muda untuk isu lingkungan.
“Kolaborasi tidak cuma antarpemerintah kota, tapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat. Di Bogor, kita melihat contoh nyata inovasi anak muda—seperti gerakan Mas Ernest—yang sukses mengolah limbah sampah menjadi peluang ekonomi bernilai tinggi (cuan). Terobosan inspiratif seperti inilah yang patut direplikasi kota-kota lain,” ungkap Afzan.
Agenda utama Mayors Talk 2026 yang digelar pada Selasa (29/9/2026) ini menghadirkan jajaran narasumber dari kementerian/lembaga pemerintah pusat, pakar tata kota, hingga akademisi.
Melalui ragam potensi dan inovasi lokal yang dipaparkan, forum Komwil III APEKSI diharapkan mampu melahirkan rumusan kebijakan perkotaan yang tangguh, adaptif terhadap perubahan iklim, serta inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.






