Rekam24.com, Jakarta – Mikroplastik semakin mendapat perhatian karena keberadaannya telah ditemukan dalam berbagai bagian rantai pangan manusia. Partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut tidak hanya ditemukan di lingkungan laut dan air, tetapi juga telah terdeteksi dalam sejumlah bahan pangan, termasuk buah, sayuran, serta produk protein.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat masuk ke dalam rantai makanan melalui berbagai jalur. Kontaminasi dapat terjadi dari lingkungan tanah dan air hingga proses produksi, pengolahan, serta distribusi makanan.
Meski demikian, temuan mikroplastik dalam makanan tidak serta-merta berarti bahwa konsumsi makanan tersebut telah terbukti menyebabkan penyakit tertentu pada manusia. Para peneliti masih terus mempelajari besarnya paparan dan dampaknya terhadap kesehatan.
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution pada Januari 2024 meneliti 16 jenis produk protein, termasuk daging sapi, ayam, babi, makanan laut, tahu, serta sejumlah produk protein nabati.
Baca Juga : KM Virgo Transport 8 Miring di Masalembo, Duka Lama di “Segitiga Bermuda” Indonesia Terulang
Penelitian tersebut menemukan mikroplastik pada sekitar 88 persen sampel yang diuji. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik tidak hanya menjadi persoalan pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat bersentuhan dengan rantai pangan manusia.
Namun, hasil tersebut tidak berarti seluruh produk protein yang dikonsumsi masyarakat mengandung mikroplastik dalam jumlah yang sama. Tingkat kontaminasi dapat berbeda tergantung jenis produk, lokasi, proses produksi, serta metode pengujian yang digunakan.
Penelitian lain yang diterbitkan pada 2020 melaporkan keberadaan partikel mikroplastik pada sejumlah buah dan sayuran.
Dalam penelitian tersebut, apel dan pir termasuk bahan pangan dengan jumlah partikel yang relatif tinggi dibandingkan beberapa komoditas lain yang diuji. Sementara itu, brokoli dan wortel juga menunjukkan keberadaan partikel mikroplastik dalam jumlah yang cukup besar.
Baca Juga : KM Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 243 Orang di Kapal: 115 Dievakuasi, 1 Meninggal
Sejumlah laporan ilmiah mencatat rata-rata sekitar 195.500 partikel per gram pada apel dan sekitar 189.550 partikel per gram pada pir dalam sampel penelitian tertentu.
Pada kelompok sayuran, brokoli dan wortel juga menunjukkan angka yang tinggi dalam penelitian tersebut.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai hasil pengujian terhadap sampel dalam penelitian, bukan gambaran bahwa setiap apel, pir, brokoli, atau wortel yang dijual di pasaran pasti memiliki jumlah mikroplastik yang sama.
Mikroplastik dapat berada di lingkungan tanah dan air akibat pencemaran limbah plastik yang terurai menjadi partikel lebih kecil.
Partikel tersebut berpotensi berinteraksi dengan sistem perakaran tanaman. Sejumlah penelitian eksperimental juga menunjukkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik dapat berinteraksi dengan jaringan tanaman dan berpindah melalui sistem tanaman dalam kondisi tertentu.
Baca Juga : Empat Kontrakan di Nanggewer Bogor Dilalap Api, Diduga Korsleting Kulkas
Air irigasi dan kualitas tanah menjadi salah satu faktor yang terus diteliti dalam kaitannya dengan keberadaan mikroplastik pada hasil pertanian.
Karena itu, pencemaran plastik tidak hanya menjadi persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan keamanan rantai pangan.
Keberadaan mikroplastik dalam makanan memang menjadi perhatian ilmiah. Namun, penting membedakan antara ditemukannya mikroplastik dalam makanan dan bukti bahwa paparan tersebut secara langsung menyebabkan penyakit tertentu pada manusia.
Hingga kini, penelitian mengenai dampak mikroplastik terhadap tubuh manusia masih terus berkembang. Para ilmuwan masih berupaya memahami bagaimana berbagai ukuran dan jenis partikel plastik berinteraksi dengan sistem pencernaan serta jaringan tubuh.
Karena itu, informasi mengenai mikroplastik sebaiknya tidak disampaikan dengan kesimpulan berlebihan yang belum didukung bukti klinis yang kuat.
Tidak mungkin menghilangkan seluruh risiko paparan mikroplastik hanya dengan satu tindakan. Namun, masyarakat dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghindari pemanasan makanan menggunakan wadah plastik yang tidak dirancang untuk suhu tinggi.
Menjaga kebersihan bahan makanan, menggunakan air yang aman, serta memilih dan menyimpan makanan dengan cara yang tepat juga merupakan bagian dari praktik keamanan pangan.
Yang tidak kalah penting adalah mengurangi pencemaran plastik dari sumbernya. Semakin sedikit plastik yang masuk ke lingkungan, semakin kecil pula peluang material tersebut terfragmentasi menjadi mikroplastik dan masuk ke berbagai ekosistem.
Kesimpulannya, mikroplastik memang telah terdeteksi dalam sejumlah bahan pangan, termasuk buah, sayuran, dan produk protein. Namun, temuan tersebut perlu dibaca berdasarkan konteks penelitian dan tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa makanan tertentu pasti menyebabkan penyakit. Penelitian mengenai paparan dan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih terus berlangsung.






