Pasca-Lebaran, Harga Plastik di Bogor Tembus Rp50 Ribu, UMKM Terancam Gulung Tikar

Harga komoditas bahan plastik di pasar tradisional Jambu Dua Bogor mengalami lonjakan signifikan setelah momen Idulfitri

Rekam24.com, Bogor – Harga komoditas bahan plastik di pasar tradisional Jambu Dua Bogor mengalami lonjakan signifikan setelah momen Idulfitri. Kenaikan tertinggi terjadi pada jenis plastik bening dan plastik merah yang mencapai 25 persen dari harga normal. Senin (6/4/26).

Menurut salah satu pedagang plastik di kawasan Pasar Jambu Dua, Arifin (40) kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak sebelum bulan Ramadan. Namun, lonjakan paling parah dirasakan justru setelah lebaran usai.

“Sebelum puasa harga masih di kisaran Rp37.000 (per bal), sekarang sudah tembus Rp50.000. Naiknya terus-menerus setiap minggu,” ujar Arifin.

Baca Juga : Pemkot Bogor Tegaskan Relokasi PKL Lawang Seketeng: Dari Kaki Lima Jadi Pemilik Kios

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kantong plastik bening dan merah, tetapi juga merambah ke berbagai jenis bahan kemasan lainnya. Harga styrofoam mengalami lonjakan cukup tajam; untuk wadah nasi, misalnya, naik dari Rp39.000 menjadi Rp43.000 per bal hanya dalam tiga hari terakhir. Sementara itu, harga mika juga meningkat, meskipun tidak sebesar kenaikan pada plastik bening. Adapun plastik hitam relatif lebih stabil, dengan kenaikan yang tergolong kecil, yakni sekitar Rp1.000 hingga Rp3.000 per ikat.

Kenaikan harga yang drastis ini berdampak langsung pada penurunan omzet pedagang sekitar 15 persen. Pedagang mengaku kesulitan menjelaskan situasi ini kepada pelanggan, terutama pelaku UMKM seperti pedagang minuman (es) yang bergantung pada kemasan plastik.

“Banyak pelanggan yang mengeluh, bahkan ada yang sampai libur dagang karena bingung menentukan harga jual. Kalau harga plastik naik terus, mereka rugi,” tambahnya.

Baca Juga : Bus Rute Bojong Gede–Sentul Alami Gangguan Teknis di Perlintasan Rel pada Hari Pertama Operasi

Hingga saat ini, penyebab pasti lonjakan harga dari pihak agen belum diketahui. Pedagang hanya mendapatkan informasi pembaruan harga setiap kali akan berbelanja stok baru. Para pedagang berharap harga dapat kembali stabil agar daya beli masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, kembali normal. (Maya Melina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *