Rekam24.com, Bogor – Bagi Frida Aulia, batik bukan sekadar wastra atau komoditas dagang semata. Melalui brand Frida Aulia Indonesia dan lini keduanya, Batik Neng Geulis, alumnus Perikanan IPB angkatan 32 ini berhasil membawa nama Bogor dan Indonesia ke panggung internasional. Mulai dari Rusia, New York, hingga Australia.
Berawal dari keresahannya saat mengikuti festival di Rusia tanpa memiliki identitas kain sendiri, Frida memutuskan untuk menciptakan motif yang unik. Hingga kini, ia telah mendesain 65 motif batik yang sebagian besar mengangkat kearifan lokal Bogor.
“Batik Neng Geulis adalah identitas. Kami mengangkat ikon seperti Lawang Salapan, peta Indonesia, hingga hal-hal personal seperti biota laut karena latar belakang pendidikan saya di Perikanan IPB,” ujar Frida.
Baca Juga: BRI BO Gatot Subroto Salurkan Jumat Berkah ke Panti Asuhan Yatim & Dhuafa Mizan Amanah
Salah satu motif favoritnya adalah Peta Indonesia, yang menurutnya sukses menjadi pembuka jalan bagi produknya diterima di pasar global seperti New York Street Festival dan Washington DC.
Sebagai seorang socio preneur, Frida tidak melihat pengrajin lain sebagai kompetitor. Sebaliknya, ia merangkul para pengrajin dari berbagai daerah, mulai dari Bogor, Cirebon, hingga Jawa Timur untuk bersinergi.
Ia memilih teknik Batik Cap sebagai strategi agar batik buatannya tetap terjangkau (di kisaran harga Rp250.000 hingga Rp690.000) namun tetap menjaga nilai estetika manusiawi.
Baca Juga : Krisis Legitimasi LBH PB PMII, Isu Pelanggaran Prosedur Mencuat
“Ini buatan manusia, ibu-ibu tua yang mengecap satu per satu, bukan mesin atau print. Kami ingin wastra nusantara ini tetap terjangkau tanpa menghilangkan marwah budayanya,” tegas wanita kelahiran Bandung tahun 1977 ini.
Kisah sukses Frida di luar negeri tidak datang dari sokongan dana instan. Ia mengaku sebagai “Pejuang UMKM” yang sering kali harus menabung secara mandiri bersama keluarga untuk bisa terbang ke luar negeri.
“Kami beli tiket murah, menginap di kamar kecil, dan membawa belasan koper sendiri. Di tahun 2017 ke Rusia, 13 koper yang saya bawa habis terjual. Kuncinya adalah tahu apa yang pasar mau, terutama pasar Eropa dan Amerika yang sangat menghargai proses manual (handmade),” ungkapnya.
Baca Juga : Krisis Legitimasi LBH PB PMII, Isu Pelanggaran Prosedur Mencuat
Dibalik kesuksesannya, Frida menekankan pentingnya menjaga kebahagiaan (happy mood) dalam berkarya. Baginya, desain adalah seni yang subjektif. Ia sering menghadapi desain yang tidak jadi dibeli atau dikritik pelanggan, namun ia menyikapinya dengan besar hati.
“Kalau tidak menjaga happy, ide tidak akan keluar. Menjadi penjual itu harus kuat dan sabar. Jika ada yang tidak jadi membeli, saya anggap itu belum rezeki. Yang penting, kita terus kreatif dan memberikan apa yang pelanggan mau, seperti warna-warna yang colorful dan tidak monoton,” tambahnya.
Frida berharap batik dan wastra nusantara lainnya tetap lestari dan mampu menggerakkan ekonomi nasional. Baginya, setiap desainer harus memiliki keunikan agar bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar.
Melalui Batik Neng Geulis, Frida Aulia telah membuktikan bahwa dengan kreativitas dan ketulusan untuk merangkul sesama pengrajin, selembar kain batik bisa menjadi duta budaya yang melintasi batas-batas negara, terutama bisa membawa nama harum Kota Bogor ataupun Indonesia. (Maya Melina)










