Rupiah Loyo Bukan Karena Ekonomi Memburuk, Ini Kata Ekonom

Nilai tukar rupiah yang terjadi dinilai tidak semata-mata mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Rekam24.com, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi di tengah tingginya tekanan global dinilai tidak semata-mata mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Sejumlah ekonom melihat pergerakan kurs saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi tekanan eksternal, arah kebijakan domestik, serta dinamika penyesuaian ekonomi yang belum sepenuhnya seimbang.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai rupiah saat ini tengah berada dalam fase overshooting. Kondisi ini terjadi ketika pelemahan nilai tukar bergerak jauh lebih dalam dibandingkan dengan kondisi fundamental jangka panjang ekonomi nasional.

Menurut Fakhrul, pelaku pasar keuangan tidak hanya membaca data ekonomi terkini. Mereka juga menyoroti arah kebijakan, konsistensi respons pemerintah, serta kemampuan negara dalam menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga : Piala AFF U-19 2026: Indonesia Vs Myanmar, Garuda Muda Diikuti Rekor Apik

Fakhrul menjelaskan, tekanan berat terhadap rupiah muncul karena nilai tukar menjadi saluran penyesuaian utama (shock absorber) dari berbagai beban ekonomi yang seharusnya tersebar ke berbagai sektor.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global biasanya akan tercermin pada sejumlah indikator sekaligus—mulai dari inflasi, beban fiskal, hingga harga domestik. Namun, karena pemerintah sangat berhati-hati melakukan penyesuaian harga domestik demi menjaga daya beli masyarakat, sebagian besar tekanan tersebut akhirnya berpindah ke pasar valuta asing.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelasnya.

Pandangan ini sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, di mana harga domestik bergerak relatif kaku, sementara pasar keuangan bereaksi sangat cepat. Akibatnya, nilai tukar berfluktuasi lebih ekstrem dibanding fundamental ekonominya.

Baca Juga : Truk Box Tabrak Tiang Listrik lalu Hantam Motor di Cileungsi, Pengendara Selamat

Meski demikian, Fakhrul menegaskan kondisi ini bukan berarti fundamental Indonesia melemah drastis. Inflasi domestik masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di jalur positif. Hanya saja, pasar saat ini sedang menguji kredibilitas kebijakan (policy anchor) yang mampu memberi kepastian di era global yang volatil.

Lebih lanjut, Fakhrul memaparkan bahwa tekanan rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, ketegangan geopolitik, serta fragmentasi perdagangan dunia menjadi faktor dominan.

Sementara dari dalam negeri, tantangan terbesar ada pada sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, maka BI (Bank Indonesia) dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” tuturnya.

Baca Juga : Truk Box Tabrak Tiang Listrik lalu Hantam Motor di Cileungsi, Pengendara Selamat

Oleh karena itu, ia menilai langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin merupakan sinyal penting untuk menjaga stabilitas. Pendekatan yang pre-emptive dan ahead the curve memang diperlukan agar tekanan kurs tidak menjalar ke sektor ekonomi lainnya.

Namun, Fakhrul menekankan bahwa stabilisasi rupiah tidak bisa dibebankan kepada BI semata. Dibutuhkan balanced policy mix atau koordinasi yang seimbang antara kebijakan fiskal dan moneter.

Pasar, kata Fakhrul, ingin melihat pemerintah dan bank sentral bergerak searah melalui komunikasi kebijakan yang kuat serta roadmap penyesuaian yang jelas. “Pasar ingin melihat burden sharing (berbagi beban) yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” tambahnya.

Sebab, tekanan nilai tukar dan tingginya yield obligasi sudah mulai berdampak pada sektor riil. Banyak industri manufaktur dan sektor domestik yang masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, hingga pembiayaan terpaksa menghadapi tekanan ganda (double hit).

Baca Juga : Ngaku Mau Ngamen Saat Hujan, Badut Jalanan di Cileungsi Nekat Curi Dompet Pedagang Kaki Lima

“Kalau kondisi ini terlalu lama, dunia usaha tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, hingga lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” kata Fakhrul.

Meski begitu, dampaknya tidak seragam. Sektor komoditas berbasis ekspor cenderung diuntungkan oleh penguatan dolar, sementara sektor yang bergantung pada impor dan memiliki utang valas tinggi harus menghadapi tekanan besar.

Fakhrul menyarankan dunia usaha untuk mengedepankan strategi defensif dengan menjaga likuiditas, memperkuat efisiensi, serta mengurangi ketergantungan pada utang valas.

Optimisme ke depan tetap ada. Fakhrul melihat ruang penguatan rupiah masih terbuka lebar jika koordinasi kebijakan domestik semakin solid.

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia yang sebenarnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *