Sejarah Berdirinya Kota Bandung, Bukan Daendels! Ini Sosok Pendiri Aslinya

Sejarah Kota Bandung ternyata tidak hanya tentang Daendels. Kenali peran penting RA Wiranatakusumah II sebagai pendiri Kota Bandung

Rekam24.com, Bandung – Sejarah berdirinya Kota Bandung selama ini kerap dikaitkan dengan sosok Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Kisah tentang tongkat yang ditancapkan di kawasan yang kini menjadi Titik Nol Kilometer Bandung begitu populer di kalangan masyarakat. Namun, di balik cerita tersebut tersimpan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa pendiri Kota Bandung bukanlah Daendels, melainkan Bupati Bandung saat itu, Raden Adipati Wiranatakusumah II.

Titik Nol Kilometer yang berada di kawasan Jalan Asia Afrika menjadi salah satu saksi sejarah lahirnya Kota Bandung. Lokasi tersebut dipercaya sebagai tempat Daendels berhenti ketika meninjau pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan pada awal abad ke-19.

Dalam kisah yang berkembang, Daendels disebut menancapkan tongkatnya ke tanah sambil mengucapkan kalimat berbahasa Belanda, “Zorg dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” atau “Pastikan saat saya kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun.” Peristiwa itu kemudian menjadi legenda yang melekat dengan sejarah Kota Bandung.

Baca Juga : Tak Disangka! Ampas Kopi Ternyata Bisa Bersihkan Limbah Peternakan, Ini Temuan Penelitinya

Namun, para sejarawan menjelaskan bahwa wilayah Bandung sebenarnya telah lama dihuni masyarakat lokal jauh sebelum kedatangan pemerintah kolonial Belanda. Kawasan tersebut dikenal sebagai Tatar Ukur, sebuah wilayah yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Banten dan Kesultanan Mataram.

Sebelum pusat pemerintahan berada di lokasi Kota Bandung saat ini, ibu kota Kabupaten Bandung terletak di Krapyak yang kini masuk wilayah Dayeuhkolot. Kawasan tersebut dinilai kurang ideal karena kerap dilanda banjir akibat luapan Sungai Cikapundung.

Melihat kondisi tersebut, Raden Adipati Wiranatakusumah II telah lebih dahulu merencanakan pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan yang lebih strategis di sekitar tepi barat Sungai Cikapundung. Lokasi tersebut berada dekat jalur perdagangan yang kemudian dilalui Jalan Raya Pos.

Baca Juga : Sengketa Lahan R3 Kota Bogor Memanas, Warga Tolak Pembangunan Sebelum Ganti Rugi Tuntas

Ketika Daendels mengeluarkan perintah pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung pada 25 Mei 1810, kebijakan tersebut justru sejalan dengan rencana yang telah disusun Wiranatakusumah II. Sang bupati kemudian memimpin langsung pembukaan kawasan hutan dan pembangunan pusat pemerintahan baru.

Melalui keputusan bertanggal 25 September 1810, Bandung resmi ditetapkan sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung. Tanggal inilah yang hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Perkembangan Bandung kemudian berlangsung pesat. Letaknya yang strategis di jalur Jalan Raya Pos serta berkembangnya perkebunan kopi di wilayah Priangan menjadikan Bandung sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, hingga aktivitas militer pada masa kolonial.

Status Kota Bandung terus mengalami perubahan. Pada 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente atau kota mandiri dari pemerintah Hindia Belanda. Seiring waktu, wilayahnya terus berkembang hingga kini memiliki luas sekitar 167,3 kilometer persegi dan menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia.

Hingga saat ini, Titik Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika masih menjadi salah satu destinasi sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan. Monumen tersebut bukan hanya menjadi pengingat pembangunan Jalan Raya Pos, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah berdirinya Kota Bandung merupakan hasil perpaduan kebijakan kolonial dan kepemimpinan lokal yang dipelopori Raden Adipati Wiranatakusumah II sebagai tokoh utama di balik lahirnya Kota Kembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *