Rekam24.com, Bogor – Di sudut Kampung Pangkalan, RT 01/RW 10, Kelurahan Cibuluh, Bogor Utara, berdiri kokoh sebuah pohon Lame (Pulai) yang menyimpan segudang cerita misteri. Warga setempat meyakini pohon puluhan tahun tersebut bukan sekadar tanaman biasa, melainkan pohon keramat yang memiliki “penunggu”.
Sunandar (48), warga asli Cibuluh, menuturkan bahwa pohon tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan hal-hal mistis. Menurut kepercayaan warga, pernah ada upaya untuk menebang pohon tersebut, namun berakhir tragis bagi pelakunya.
“Mitosnya pernah ada yang mau tebang, malah meninggal. Makanya biar sudah terlihat kering atau menua, tidak ada yang berani menebang, bahkan pihak dinas sekalipun,” ujar Sunandar saat ditemui di lokasi. Selasa, (31/3/26).

Ia juga menambahkan sering melihat fenomena aneh di sekitar pohon tersebut, mulai dari cahaya yang menyala hingga keyakinan adanya benda pusaka yang “turun” ke area pohon.
“Ibaratnya kaya keramat, ada orang sakti atau keris turunnya ke sini,” tambahnya.
Selain sisi mistis, pohon Lame ini dikenal karena aroma bunganya yang sangat menyengat namun harum. Sunandar menyebut, saat sedang berbunga lebat, wanginya bisa tercium hingga ke kawasan Jalan Baru (Jalan KH Sholeh Iskandar).
“Kalau bunganya lagi berguguran itu wangi sekali, mau siang atau malam. Kemarin sempat wangi, tapi sekarang sudah habis bunganya, jadi tinggal daunnya saja,” jelasnya.
Menariknya, keberadaan akar pohon Lame ini dianggap sebagai penyelamat warga dari ancaman bencana. Di tengah kondisi tanah yang rawan, pohon ini diyakini menjadi pengikat tanah sehingga mencegah terjadinya longsor di wilayah tersebut.

Menanggapi keberadaan pohon tersebut, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Kadis Perumkim) Kota Bogor, Chusnul Rozaqin, memberikan penjelasan dari sisi botani. Ia mengonfirmasi bahwa pohon tersebut adalah jenis Pulai yang memang memiliki karakteristik bunga beraroma kuat, terutama pada malam hari.
“Itu pohon Pulai. Kalau pas berbunga memang wangi, utamanya malam hari,” kata Chusnul.
Mengenai status pengelolaannya, Chusnul menjelaskan bahwa meskipun lokasinya berada di area yang bersinggungan dengan jalan nasional, posisi tumbuh pohon tersebut berada di lahan pribadi warga.
Bagi masyarakat yang ingin melihat pohon serupa di Kota Bogor, Chusnul menyebutkan beberapa titik lain, salah satunya berada di depan kantor arsip samping Mall BTM. Namun, bagi warga Cibuluh, pohon Lame di Kampung Pangkalan tetap memiliki tempat tersendiri, antara fungsi ekologis sebagai penahan longsor dan balutan mitos yang tetap terjaga hingga kini.
#Simbol Harmonisasi Budaya dan Penjaga Ekosistem Tanah Sunda
Dalam kebudayaan Sunda, pohon Pulai (Alstonia scholaris) atau yang akrab disapa Pule dan Lame, bukan sekadar tanaman peneduh biasa. Pohon ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan Objek Pemajuan Kebudayaan, khususnya dalam aspek Teknologi dan Pengetahuan Tradisional.
Baca Juga : Effortless Beauty: Gaya Makeup Simpel 2026 yang Jadi Andalan Cewek Aktif
Sekretaris Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Sekdis Parbud) Kota Bogor, Dian Herdiawan, mengungkapkan bahwa Pule memiliki peran ikonik sebagai bahan baku utama pembuatan Wayang Golek. Karakter kayunya yang ringan, berwarna putih, dan mudah dipahat menjadi alasan para perajin memilihnya untuk membentuk detail karakter wayang tanpa membebani dalang saat memainkannya.
“Selain menjadi unsur seni, Pule adalah apotek hidup. Secara turun-temurun, masyarakat Sunda memanfaatkan rebusan kulit batangnya untuk mengobati malaria, demam, hingga masalah pencernaan,” ujar Dian.
Sejarah mencatat bahwa Ibu Kota Pakuan Pajajaran dibangun dengan material alam seperti kayu, bambu, dan ijuk. Semangat alamiah ini terus dibawa hingga kini melalui moto yang diaktualisasikan Disparbud Kota Bogor: “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” serta “Dengan Budaya Mari Kita Pelajari Alam Sebelum Alam Memberikan Pelajaran Kepada Kita.”
Baca Juga : Style Tanpa Ribet: Tren Gaya Busana 2026 yang Nyaman, Fleksibel, dan Tetap Stylish
Dian menekankan bahwa apa pun tindakan manusia terhadap lingkungan akan segera diseimbangkan oleh alam. Kerusakan hutan dan pembuangan sampah sembarangan akan berujung pada bencana banjir. Sebaliknya, upaya menjaga alam seperti menanam Pule di jalur hijau memberikan manfaat ganda bagi manusia.
“Menanam Pule bukan hanya soal produksi oksigen (O2), tetapi juga tentang kesehatan jiwa. Wangi khas dari pohon ini berfungsi sebagai aromaterapi alami yang menenangkan jiwa bagi siapa pun yang melintas di bawahnya,” tambahnya.
Melalui pelestarian pohon Pule, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan ekologis kota demi kualitas hidup yang lebih bersih dan harmonis. (Maya Melina)










