Rekam24.com, Bogor – Gelombang keresahan mahasiswa IPB University memuncak. Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menggelar aksi protes pada Rabu (16/4/26) menuntut ketegasan Rektor Alim Setiawan dalam menangani maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus Dermaga.
Aksi ini dipicu oleh viralnya bukti percakapan di media sosial X melalui akun @ipb_menfess. Laporan tersebut mengungkap dugaan pelecehan sistematis, objektifikasi, hingga tindakan perpeloncoan yang mengarah pada kekerasan seksual di dalam grup chat mahasiswa TMB-59.
Dalam pernyataan resminya, Ketua Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus Bebas Pelecehan, Maulana Bawazier menilai Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang dibentuk kampus telah gagal menjalankan fungsinya. Mereka menyebut sanksi yang diberikan selama ini, seperti hukuman “membersihkan musala”, sangat tidak sebanding dengan trauma korban dan tidak memberikan efek jera.
Baca Juga : Kota Bogor Dikepung Cuaca Ekstrem: Atap Sekolah Terbang hingga Puluhan Rumah Terdampak Banjir
“Selama ini Satgas hanya menjadi alat pencitraan. Mahasiswa melihat Satgas tidak cekatan, tidak transparan, dan cenderung melindungi pelaku demi menjaga ‘nama baik’ departemen,” ujar Maulana. Kamis (16/4/26).
Situasi diperparah dengan adanya rumor mengenai keterlibatan anak dari salah satu guru besar IPB dalam kasus serupa. Maulana menyayangkan hingga kini oknum tersebut diduga masih bebas tanpa sanksi yang jelas, sementara korban hidup dalam ketakutan.
Maulana juga menyoroti perbedaan kontras antara respons pimpinan IPB dengan pimpinan Universitas Indonesia (UI). Menurut mereka, UI jauh lebih tanggap dan transparan dalam menangani kasus grup chat serupa, sedangkan pimpinan fakultas maupun rektorat IPB dinilai masih bungkam.
Baca Juga : Sinopsis Film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan, Dibintangi Lulu Tobing hingga Yasmin Napper
“Kami tidak akan diam. Mahasiswa IPB akan terus menuntut keadilan, bukan sekadar damai semu yang hanya menguntungkan pelaku dan melindungi nama baik institusi,” tegas Maulana.
Dalam aksi tersebut, Koalisi Mahasiswa Peduli IPB melayangkan lima tuntutan mendesak kepada pihak rektorat, Alim Setiawan.
Ketegasan Tanpa Pandang Bulu: Rektor diminta menindak seluruh pelaku, termasuk yang memiliki relasi kuasa dengan pimpinan atau guru besar.
Reformasi Satgas: Menuntut Satgas PPKS menjadi lembaga independen yang pro-korban, bukan alat pencitraan.
Transparansi Penanganan: Meminta proses hukum yang cepat dan terbuka.
Perlindungan Korban: Jaminan pemulihan tanpa adanya tekanan untuk menempuh jalan “damai” atau ancaman akademik.
Audit Organisasi: Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap grup chat dan organisasi mahasiswa yang berpotensi menjadi ruang kekerasan seksual.
Hingga berita ini diturunkan, pihak rektorat IPB belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan dan aksi massa yang berlangsung di kampus tersebut. (Maya Melina)










