Jendela Fiksi, Tak Seindah Layar Di Depan Panggung

“Kamu lagi memikirkan mereka, ya?” tanya Mila pelan.

Rekam24 – Panggung itu selalu bersinar. Lampu-lampu sorot menari di atas kepala, penonton bertepuk tangan, dan senyum Finsen mengembang seperti bunga yang dipaksa mekar di musim kemarau. Ia berdiri di tengah panggung, tubuhnya ringan, langkahnya lincah, dan tawa penonton menjadi musik yang mengiringi setiap gerakannya. Orang-orang menyebutnya badut yang paling menghibur. Tapi di balik tirai tebal yang menutupi belakang panggung, dunia Finsen retak.

Di ruang ganti yang berbau bedak dan keringat, cermin besar memantulkan wajahnya yang pucat. Ia menatap bayangannya sendiri dan berbisik, “Andai ku benar-benar badut… aku bisa menertawai diriku tanpa rasa malu. Aku bisa jatuh, berguling, menangis di depan dunia, dan mereka hanya akan tertawa.”

Mila duduk di sudut ruangan, menyandarkan dagu di lutut. Matanya yang biasanya cerah kini redup seperti lampu yang hampir padam. Ia tahu. Ia selalu tahu. Setiap kali Finsen turun dari panggung, senyumnya menguap lebih cepat daripada asap rokok di udara malam.

“Kamu lagi memikirkan mereka, ya?” tanya Mila pelan.

Finsen mengangguk. “Mereka… sebongkah mutiara kehidupan. Terlahir dari mereka, dihidupi oleh sayang dan kasih yang nilainya melebihi intan berlian. Kilaunya lebih tajam dari emas batangan. Aku masih ingat rasanya saat mereka memelukku. Saat lengan mereka merangkul dan mendekap, seolah dunia berhenti berputar hanya untuk kami bertiga.”

Suara Finsen bergetar. “Dalam keterbatasan, mereka masih mampu bergerak. Saat kekurangan, mereka masih menghasilkan karya terindah. Ketika kesulitan, mereka masih ikhlas bersyukur. Sedangkan aku… dalam segala kelebihan yang mereka berikan, aku hanya bisa berdiri diam di panggung, menertawai diri sendiri, dan menyembunyikan tangis di balik topeng.”

Mila berdiri, mendekat, dan meletakkan tangan di bahu Finsen. “Kamu bukan hanya badut di panggung. Kamu juga manusia di belakang layar. Dan belakang layar selalu lebih berantakan daripada yang dilihat penonton.”

Malam itu, setelah pertunjukan selesai, mereka berjalan menyusuri lorong belakang teater. Lampu-lampu neon berkelip-kelip seperti bintang yang lelah. Finsen tiba-tiba berhenti. Dadanya naik-turun cepat. Matanya memerah.

“Entah apa yang membangkitkan marah ini,” bisiknya. “Gundah, gelisah, pasti. Hemmh… Salah. Ya, aku yang salah. Aku ingin terbang… dan membantingkan diri ke bumi. Begitu besar rasa salah ini. Karena aku percaya dengan rasa.”

Mila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan Finsen lebih erat, seolah mencoba menahan seseorang yang sudah setengah melayang di udara. Di lorong yang sunyi itu, dua jiwa berdiri di antara cahaya dan bayangan—satu yang terbiasa membuat dunia tertawa, dan satu yang tahu bagaimana menahan tangisnya.

Panggung di depan selalu indah. Tapi di belakang layar, Finsen dan Mila belajar bahwa hidup tidak pernah sebersih sorotan lampu. Ia berantakan, penuh retak, dan kadang hanya bisa diselamatkan oleh genggaman tangan yang tidak pernah melepaskan.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *