Rekam24.com, Bogor – Festival Merah Putih (FMP) 2026 menghadirkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui hibah bibit pohon alpukat Miki untuk rumah ibadah dan tempat sosial di Kota Bogor. Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 30 persen dari lebih dari 990 rumah ibadah yang telah dipetakan panitia.
Memasuki tahun ke-11 penyelenggaraannya, FMP 2026 tidak hanya menghadirkan berbagai kegiatan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga membawa program sosial yang menggabungkan pemberdayaan ekonomi umat dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Program wakaf pohon alpukat tersebut dibuka secara simbolis melalui penanaman bibit alpukat di area Masjid Agung Kota Bogor. Penanaman perdana ini sekaligus menjadi tanda dimulainya sosialisasi dan proses verifikasi lokasi yang akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026.
Baca Juga :Â Festival Merah Putih 2026 Bogor Resmi Digelar, Ini 17 Agenda Meriah Sambut HUT RI ke-81
Ketua Panitia FMP 2026, Syahril M. Said, mengatakan pemilihan alpukat Miki dilakukan berdasarkan pertimbangan teknis, termasuk kondisi agroklimat dan ketinggian wilayah Kota Bogor yang dinilai mendukung budidaya tanaman hortikultura tersebut.
“Hari ini kita mulai seremonial tanam alpukat. Program kami adalah wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan tempat sosial. Kenapa harus alpukat? Karena iklim dan ketinggian lahan Kota Bogor sangat ideal untuk jenis tanaman tersebut,” ujar Syahril M. Said di Masjid Agung Kota Bogor.
Menurut Syahril, budidaya alpukat tersebut sebelumnya telah diuji coba di sejumlah titik wilayah Bogor. Hasilnya dinilai menunjukkan potensi produksi yang cukup menjanjikan.
Baca Juga :Â Dari Balap Rakit Mahasiswa Afrika hingga Fashion Show Limbah, Festival Situ Gede Bogor Pecah
“Kami sudah buktikan di beberapa tempat di Kota Bogor. Pohon berumur 6 hingga 7 tahun bisa menghasilkan hingga 500 kg. Dari segi iklim dan jenis tanaman, ini yang paling sesuai. Ini langkah FMP di tahun ke-11 untuk menciptakan ‘monumen hidup’ di rumah-rumah ibadah,” jelasnya.
Berdasarkan pemetaan panitia, terdapat lebih dari 990 rumah ibadah yang tersebar di Kota Bogor. Pada tahap awal, program pemberdayaan berbasis tanaman produktif tersebut menargetkan jangkauan sekitar 30 persen dari total rumah ibadah.
Pengurus rumah ibadah maupun pengelola tempat sosial yang berminat mengikuti program dapat mengajukan permohonan kepada panitia FMP 2026.
“Hari ini kita tidak tanam serentak, melainkan seremonial satu rumah ibadah di Masjid Agung Kota Bogor. Mulai sekarang sampai 31 Agustus, teman-teman pengurus rumah ibadah atau tempat sosial yang ingin menanam alpukat silakan mendaftar ke kami,” kata Syahril.
Baca Juga :Â Kirab Budaya Bogor Sukses, Pedagang Kecil Hingga Hotel Panen Cuan
Namun, setiap lokasi yang mengajukan permohonan akan terlebih dahulu melalui proses verifikasi. Tim FMP akan melakukan survei untuk memastikan ketersediaan lahan, tingkat pencahayaan dan kondisi tanah sebelum penanaman dilakukan.
“Kami tidak hanya memberi pohon, tetapi turun langsung untuk menanam dan memastikan kondisi teknisnya cocok. Kami ingin memastikan pohon yang ditanam benar-benar menghasilkan sesuai prediksi di masa mendatang,” tegasnya.
Varietas yang dipilih dalam program tersebut adalah alpukat Miki. Jenis alpukat ini dinilai memiliki daya adaptasi yang baik terhadap iklim tropis Indonesia serta mempunyai cita rasa dan nilai jual yang menjanjikan.
“Untuk Kota Bogor, varietas yang paling sesuai adalah alpukat Miki. Varietas ini memiliki karakter rasa terbaik dan nilai jual yang tinggi. Di tingkat supermarket, harganya bisa mencapai Rp70.000 per kilogram, sedangkan di tingkat petani nilainya sangat menjanjikan,” papar Syahril.
Dari sisi perawatan, alpukat Miki disebut relatif praktis dan dapat mulai berbuah pada usia sekitar dua tahun. Pada panen awal, satu pohon diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram buah.
Sementara ketika memasuki usia produktif optimal, satu pohon disebut dapat menghasilkan sekitar 200 hingga 300 kilogram buah dalam satu musim.
“Jika dikalkulasikan dengan harga konservatif Rp30.000 per kilogram di tingkat petani, satu pohon bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta. Ini adalah bentuk hibah ‘pancing’ dari kami agar rumah ibadah memiliki sumber kemandirian ekonomi secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, FMP 2026 menyiapkan skema pendampingan dan pemantauan bagi rumah ibadah yang menerima bibit alpukat.
Pendampingan mencakup penyediaan pupuk organik dan anorganik setiap bulan serta pemantauan perkembangan tanaman secara berkala.
Panitia juga menyiapkan apresiasi berupa reward bagi pengelola rumah ibadah yang dinilai mampu merawat tanaman dengan baik dan menjaga keberlangsungan program.
Sementara bagi pengurus rumah ibadah yang ingin melihat langsung contoh tanaman alpukat produktif, panitia menyediakan lokasi percontohan di kawasan Masjid Al Kautsar, Komplek Perumda Cipaku, Bogor.
Di lokasi tersebut terdapat tanaman alpukat produktif yang telah berusia sekitar dua tahun dan enam tahun.
Program wakaf pohon alpukat FMP 2026 diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian Festival Merah Putih, tetapi juga dapat menjadi investasi jangka panjang bagi rumah ibadah melalui pemanfaatan lahan untuk kegiatan produktif dan pemberdayaan ekonomi.








