Strategi Pemkot Bogor Urai Benang Kusut Kemacetan Kronis di Simpang Ciawi

Ribuan Kendaraan Wisatawan Memadati Simpang Gadog Ciawi Bogor
Ribuan Kendaraan Wisatawan Memadati Simpang Gadog Ciawi Bogor

Rekam24.com, Bogor – Kemacetan parah yang kerap menyandera para pengguna jalan di kawasan Simpang Ciawi akhirnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Tingginya volume kendaraan yang keluar dari pintu Tol Ciawi disinyalir menjadi pemicu utama penumpukan antrean panjang di titik krusial tersebut.

Menanggapi kondisi yang kian mengkhawatirkan ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor menyiapkan sejumlah langkah taktis, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga pembenahan infrastruktur fisik di sekitar persimpangan.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Sujatmiko Baliatro, menjelaskan bahwa tingginya tingkat kedatangan kendaraan dari arah tol langsung berbenturan di titik simpang, sehingga memicu antrean mengular di kaki pendekat jalur tol.

Baca Juga : Atasi Kesemrawutan Simpang Ciawi, Pemkot Bogor Gandeng Pemkab dan Jasa Marga

“Simpang Ciawi ini kenapa macet, karena tingkat kedatangan kendaraan dari Tol itu sangat tinggi, langsung menuju titik simpang. Oleh karena itu antreannya sangat tinggi di kaki pendekat Simpang Ciawi yang menuju tol,” kata Sujatmiko.

Guna mengatasi persoalan tersebut, Dishub Kota Bogor bakal berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk merubah durasi fase lampu hijau (green time).

Pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu), arus kendaraan dari arah Sukabumi maupun Ciawi menuju Kota Bogor cenderung lebih renggang. Oleh sebab itu, durasi lampu hijau dari kedua arah tersebut akan dikurangi, lalu dialokasikan untuk memperpanjang durasi hijau kendaraan yang keluar dari arah tol.

Baca Juga : Wajah Baru Kawasan RS Marzoeki Mahdi, Pemkot Bogor Tata PKL Semeru Demi Proyek Strategis Kesehatan

Selain pengaturan traffic light, aspek rekayasa lalu lintas (traffic engineering) juga menjadi fokus utama. Pemkot Bogor menyoroti maraknya bus antar-kota yang sering berhenti sembarangan (ngetem) di kaki pendekat simpang.

Sujatmiko menegaskan bahwa area kaki pendekat persimpangan seharusnya steril dari aktivitas yang memicu hambatan lalu lintas (delay factor).

Adanya media portabel yang dipasang Jasa Marga serta keberadaan bus yang berhenti di bahu jalan terbukti memangkas kapasitas jalan secara signifikan—bahkan hanya menyisakan satu lajur untuk kendaraan menuju tol.

Baca Juga : Diduga Rem Blong, Microbus Elf Tabrak Honda BR-V hingga Terperosok ke Sungai di Ciawi Bogor

Untuk meningkatkan kapasitas jalan, Penertiban Kerb/Kanstin: Pembatas jalan yang menyempitkan ruang akan diangkat dan dibersihkan, Sterilisasi Lajur: Menghilangkan area ngetem liar agar arus kendaraan kembali lancar.

Sebagai solusi jangka panjang bagi armada bus seperti Sinar Jaya dan sejenisnya, Wali Kota Bogor berencana mengajukan usulan pembangunan Transit Point khusus.

Rencananya, fasilitas ini memanfaatkan lahan milik Jasa Marga yang berada di sisi kiri jalur tol. Dengan adanya transit point, bus tidak lagi menaik-turunkan penumpang di badan jalan.

Desain awal Transit Point Ciawi mencakup, Lajur Khusus Ngetem/Pengendapan: Tempat bus menunggu penumpang secara aman di luar badan jalan, Lajur Keluar (Operasional): Akses khusus bagi bus untuk kembali masuk ke jalur utama tanpa mengganggu arus lalu lintas umum.

Faktor lain yang memicu kemacetan adalah adanya perlambatan (deceleration) kendaraan dari arah tol yang hendak menuju Ciawi. Salah satu penyebab utamanya adalah penyempitan pada radius tikungan di depan Pos Polisi Gatur Ciawi.

Pemkot Bogor meminta agar radius tikungan tersebut dihilangkan dan diperlebar—dari yang semula sekitar 10 meter dinaikkan menjadi 15 meter.

Pelebaran radius tikung ini diharapkan mampu meningkatkan lajur percepatan (acceleration lane), sehingga pelepasan arus kendaraan dari arah tol dapat berlangsung lebih lancar tanpa memicu penumpukan berlebih.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *