Sekeping Fiksi, Rekam24.com – Jika semesta memberiku kuasa untuk merobohkan seluruh dinding pemisah di muka bumi, maka hal pertama yang akan kurobohkan adalah kasta dan takhta yang lancang mengatur kepada siapa hati harus berlabuh. Sebab cinta terlahir tanpa akta kelahiran; ia bebas merengkuh jiwa siapa pun tanpa peduli apa jabatannya, siapa namanya, atau dari tanah mana ia berasal.
Jujur saja, aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebelah rumahku. Namanya Sonia. Saat pertama kali mengenalnya, aku hanyalah seorang anak kelas dua SMP, sementara usianya sekitar tujuh belas tahun—dua tahun lebih tua dariku. Entah pada titik waktu yang mana benih-benih itu mulai bersemi, mungkin ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun dan ia sembilan belas. Aku tak pernah benar-benar bertanya berapa usianya yang sebenarnya, sebab bagiku angka-angka itu tak penting; aku hanya ingin menjaga perasaannya.
Dulu, aku memang sering menghabiskan waktu di rumah tetangga sebelah karena putra mereka adalah sahabat karibku. Setiap kali kami bermain, Sonia selalu menjadi bayangan yang mengawasi dan menjaga. Mungkin karena aku bermain di teritorialnya, ia merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan kami. Sonia sudah cukup lama mengabdi di rumah itu. Dulu, setiap kali hari gajian tiba, ia selalu menyisihkan uang untuk membeliku jajanan. Ia juga kerap menciumi pipiku dengan gemas. Tentu saja tidak mudah—ia harus mengejarku dengan iming-iming sebatang permen, sebab jika tidak, aku pasti akan berlari menghindar.
Tentang Sonia… ah, wanita itu memiliki pesona tersendiri. Tubuhnya indah dengan wajah yang lugu dan manis. Posturnya tinggi, tampak lebih dewasa dibanding para gadis seusianya—mungkin tempaan hidup dan kerja keraslah yang mendewasakannya lebih cepat. Jika berbicara, lidahnya kerap melantunkan logat Sunda yang kental, sebab ia memang seorang gadis Sunda asli. Tubuhnya selalu mengalirkan keharuman yang lembut. Dan kau tentu tidak tahu, setiap kali ia menciumi pipiku dulu, aku selalu memejamkan mata, meresapi kehangatan hembusan napasnya. Bibirnya begitu tipis, dibingkai rambut panjang yang tergerai membingkai kening. Bulu-bulu halus menghiasi lengannya. Itulah Sonia—wanita yang selalu ramah pada siapa saja, dan kebaikannya sudah pasti menyejukkan hati.
Hadirnya Perasaan
Waktu berputar cepat. Aku telah beranjak remaja di bangku SMA, sementara Sonia telah melangkah ke usia kepala dua. Ia tak lagi menciumi pipiku; barangkali rasa sungkan mulai merayap, atau mungkin karena ia menyadari kami berdua bukan lagi anak-anak.
Sore itu, sepulang sekolah, langkahku terhenti di taman komplek. Aku melihat Sonia tengah duduk berdua dengan seorang lelaki, larut dalam perbincangan. Saat itu, ia mengenakan rok panjang dan baju tanpa lengan, menenteng kantong pelastik hitam—mungkin baru saja pulang berbelanja dari warung terdekat.
Pemandangan itu terulang pada sore-sore berikutnya. Sonia dan lelaki itu. Namun, entah mengapa, ada rasa sesak yang meraja di dadaku setiap kali melihat mereka bersama. Rasa tidak suka itu membakar diam-diam. Aku lantas mencari tahu lewat temanku, dan kebenaran itu menghantamku: lelaki tersebut adalah kekasih Sonia. Mereka telah menjalin kasih selama dua tahun. Malam itu, aku marah besar. Gelisah merampas tidurku, menyisakan rasa kesal yang sulit dijelaskan.
Sore berikutnya, aku kembali melihat Sonia di taman. Namun, suasananya jauh berbeda. Ia tampak begitu rapuh; wajahnya murung, matanya basah oleh genangan air mata. Dari kejauhan, kulihat lelaki itu meninggalkannya begitu saja. Tanpa pikir panjang, aku melangkah mendekat. Begitu berada di sisinya, pertahanan Sonia runtuh. Ia menangis tersedu dan langsung memelukku erat.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan isak tangisnya, hingga ia tersadar siapa yang sedang ia peluk. Dengan suara serak ia berbisik, “Maaf… aku tak sadar. Aku hanya… tak tahu harus meminjam bahu siapa untuk bersandar.”
Aku menatapnya teduh, lalu tersenyum kecil. “Tak apa. Bukankah dulu, waktu aku masih kelas enam SD, kaulah yang selalu membiarkanku bersandar di pipimu?”
Sonia tersenyum tipis di sela air matanya. Aku lantas mengajaknya berjalan pulang, berbisik lembut padanya, “Jika kau belum siap bercerita tentang apa yang baru saja terjadi, simpanlah. Aku akan menunggu sampai kau mau berbagi. Dan ingatlah, kapan pun kau ingin menangis, bahuku akan selalu siap menjadi tempatmu berlabuh.”
Keesokan harinya, kulihat ia kembali berjalan seorang diri di jalanan komplek, menenteng tas plastik hitamnya, membawa serta sisa-sisa luka yang perlahan kusematkan dalam doa agar segera berlalu.








