Novel Fiksi Remaja, Senja, Hujan & Kata yang Tertahan

Senja ini turun hujan, tidak seperti senja biasanya Memori berjalan ke masa lalu Teringat kau yang dengan senyum menunggu hujan di sisi jalan Dan aku di sampingmu hanya bisa bungkam Tak ada kata yang keluar dari mulutku dan kamu hanya senyum memandang keanehan ku yang hanya diam Aku menyesal tak bernyali tuk berikan sapaan kepadamu Burung pun terta

Rekam24.com, Jendela Fiksi , Cinta Dahulu –Bab 1 Pepeh Kayu dan Senyum yang Menghentikan Waktu

Arka selalu percaya bahwa cinta yang paling indah adalah cinta yang belum pernah disentuh. Cinta yang hanya hidup di dalam dada, di selembar kertas, atau di pelepah kayu yang ia temukan di tepi sungai belakang sekolah. Di usia tujuh belas tahun, ia sudah terlalu sering menyimpan kata sampai dadanya terasa sesak. Lebih baik diam daripada salah ucap. Lebih baik menulis daripada merusak sesuatu yang masih suci.

Naya. Nama itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup seolah mau keluar dari dada dan berlari mengejar gadis itu. Naya selalu datang dengan senyum yang lebih terang dari seluruh lampu di kota. Rambutnya sedikit basah setelah hujan, seolah hujan sendiri enggan meninggalkannya. Matanya menyimpan seluruh rahasia langit, tapi tak pernah sekali pun menanyakan apa pun.

Suatu pagi, Arka menemukan pelepah kayu yang cukup lebar di tepi sungai. Ia duduk di batu besar, membuka buku kecilnya, dan menuliskan sesuatu dengan hati yang hampir meledak:

Pelepah kayu menjadi media terindah untuk mengungkapkan rasa Pena yang tergurat dalam selembar kertas memberi makna yang dalam Hanya senyuman tanpa sentuhan tangan menjadi satu kenikmatan Terjaganya kesucian asmara dalam tingkah maupun kata

Ia menaruh pelepah itu diam-diam di meja Naya saat istirahat. Dari kejauhan, ia melihat Naya membacanya. Senyum gadis itu muncul pelan, lalu pelepah itu disimpan di dalam buku pelajaran. Arka merasa seluruh dunianya tiba-tiba menjadi terlalu kecil untuk menampung rasa bahagianya. Cinta yang belum pernah disentuh terasa lebih besar dari langit dan lebih dalam dari laut.

Bab 2 Kata yang Terlalu Ringan

Waktu berjalan kejam. Naya mulai jarang tersenyum ke arahnya. Senyum yang dulu bisa menghentikan waktu sekarang seperti digenggam orang lain. Arka mencoba mendekat suatu sore di kantin. Suaranya hampir tenggelam di keramaian.

“Naya… aku…” katanya, hampir berbisik. “Aku… suka kamu.”

Naya menatapnya sebentar. Lalu tertawa pelan. Tawa itu terasa seperti pisau yang menusuk pelan-pelan ke dada Arka.

“Cinta?” katanya. “Itu biasa, Ark. Semua orang bilang begitu.”

Arka terdiam. Malam itu ia menulis lagi, di kertas yang basah oleh air matanya sendiri yang turun lebih deras dari hujan mana pun:

Ku bilang cinta Kau ucap itu biasa Ku katakan rindu Kau kata itu wajar Tak pernah kau berikan ku madu Sejak kau bertemu masa lalu-mu Kau ingin mawar selalu tumbuh Namun kau tak pandai memupuknya Sampai pada ku tinggalkan semua Dan terbawa oleh derasnya air Entah di mana dan dengan siapa Pernah berpikir tentang dia, tapi ku tak bisa terima Salamku untuk perpisahan kita.

Ia tidak pernah memberikan tulisan itu. Hanya menyimpannya di laci meja seolah menyimpan potongan hatinya yang sudah retak.

Bab 3 Ketika Hati Dibeli

Kemudian datang Keenan. Anak orang kaya yang selalu datang dengan mobil seolah dunia adalah miliknya. Selalu membawa hadiah kecil yang membuat mata Naya berbinar lebih terang dari bintang. Arka melihat mereka dari kejauhan. Naya tertawa lebih lepas. Keenan menyentuh rambutnya sesekali, dan setiap sentuhan itu terasa seperti meninju dada Arka berulang kali sampai ia hampir tak bisa bernapas.

Malam itu pena di tangannya gemetar. Ia menulis seolah tinta itu menolak menuliskan rasa sakitnya:

Kau lepas semua perasaan hati Kau tinggalkan perasaan dalam kegelapan Kau buang gita cinta dalam jurang Kau hanyutkan melodi rindu dalam arus deras

Seolah mata hatimu buta Tak pernah merasa cinta karena harta Menjual kasih dalam keinginan Dibeli kasmaran dalam harapan

Ketika hati dibeli Cinta tak akan pernah berarti Perasaan hanya ilusi Tak akan pernah ada cinta kasih dalam hati

Arka tahu ia tidak punya apa-apa. Tidak ada mobil. Tidak ada hadiah mahal. Hanya pelepah kayu dan selembar kertas yang sekarang terasa seperti satu-satunya harta yang tersisa di dunia. Ia merasa tak mampu menyentuh Naya. Bukan karena jarak, melainkan karena sesuatu yang lebih besar dari langit, lebih dalam dari lautan, lebih mustahil dari menggapai bulan dengan tangan kosong.

Bab 4 Tak Mampu untuk Ku Sentuh

Malam-malam berikutnya ia menulis lagi, lebih panjang, lebih dalam, seolah hatinya memaksa keluar melalui ujung pena:

Kau bukan udara Kau bukanlah api Dan kau juga bukan air Tapi mengapa sulit untuk ku sentuh Mengapa sulit untuk ku membelai Dan sangat sulit untuk ku genggam

Untung Tuhan memberikan sedikit air mata pada seorang pria Ku tak mampu untuk menangis Ku tak mampu untuk mengeluh Ku tak mampu tuk bersedih Ku tak mampu tuk lemah Semua itu tak mampu di hadapanmu

Ia menutup buku itu dengan tangan yang gemetar. Di luar jendela, hujan mulai turun. Arka menatap langit yang gelap dan merasa langit itu pun ikut menangis untuknya.

Bab 5 Senja, Hujan, dan Segala yang Tak Sempat Diucapkan

Suatu senja, hujan turun deras seolah langit ikut menangisi hatinya. Arka berdiri di bawah atap warung kecil di tepi jalan, menunggu hujan reda. Dari kejauhan ia melihat Naya berdiri di sisi jalan, menanti. Senyumnya sama seperti dulu—senyum yang dulu bisa menghentikan waktu, sekarang hanya menghentikan napas Arka.

Ia ingin melangkah. Ingin menyapa. Ingin bilang apa saja.

Tapi mulutnya terkunci seolah seluruh kata di dunia sudah mati.

Hujan terus turun lebih deras. Naya menunggu. Arka menunggu. Lalu sebuah mobil hitam berhenti. Keenan keluar, membuka payung, dan Naya masuk ke dalamnya. Mereka pergi.

Pada detik itu, Arka merasa seluruh dunianya runtuh pelan-pelan, batu demi batu, sampai tak tersisa apa-apa kecuali hujan dan sesal yang lebih berat dari langit.

Ia berdiri diam sampai hujan reda. Burung-burung mulai berkicau lagi seolah mengejek kesunyiannya. Angin berlalu membawa semua yang tersisa. Tapi sesal tetap tinggal, menempel di tulang rusuknya, menolak pergi.

Di rumah, dengan baju yang masih basah dan lebih berat dari tubuhnya sendiri, Arka membuka laci meja. Ia mengeluarkan semua tulisan yang pernah ia buat untuk Naya. Satu per satu ia baca, seolah membaca surat wasiat dari hatinya sendiri yang sudah mati. Lalu ia menuliskan yang terakhir:

Senja ini turun hujan, tidak seperti senja biasanya Memori berjalan ke masa lalu Teringat kau yang dengan senyum menunggu hujan di sisi jalan Dan aku di sampingmu hanya bisa bungkam Tak ada kata yang keluar dari mulutku dan kamu hanya senyum memandang keanehan ku yang hanya diam Aku menyesal tak bernyali tuk berikan sapaan kepadamu Burung pun tertawa dan angin pergi berlalu sedangkan sang hujan tetap turun seakan masih berharap ada kata yang akan terucap dariku Sampai hujan reda aku masih bungkam Dan hingga sesal ini datang Melihat dia wanita yang ku kagumi berlalu dengan sosok lain Mungkin memang pahit dan sakit Namun untung hujan dikala senja ini reda Hingga terhapus semua memori tentangmu Entah kapan akan kembali.

Ia meletakkan semua tulisan itu di meja, menatapnya lama. Cinta dahulu. Cinta yang tak pernah disentuh. Cinta yang hanya hidup di pelepah kayu, di selembar kertas, di senyum yang tak pernah dijawab, di hujan yang tak pernah diguyur kata. Cinta yang pernah membuat seluruh dunia terasa terlalu kecil untuk menampung perasaannya, sekarang terasa seperti lubang hitam yang menelan segalanya.

Arka menyimpan semua tulisan itu kembali. Tidak dibuang. Tidak dibakar. Hanya disimpan, seolah menyimpan puing-puing dari sebuah dunia yang pernah ada hanya untuknya.

Karena meski sakit sampai tulangnya terasa patah, cinta dahulu tetap menjadi bagian dari dirinya. Bagian yang pernah membuatnya percaya bahwa senyuman tanpa sentuhan bisa menjadi kenikmatan paling dalam di muka bumi. Bahwa kesucian asmara bisa hidup hanya dari tingkah dan kata, bahkan ketika seluruh dunia sudah berhenti percaya.

Dan Arka, di usia tujuh belas tahun itu, belajar satu hal yang paling pahit sekaligus paling jujur:

Kadang, cinta yang paling indah adalah yang tak pernah kita miliki sepenuhnya. Hanya pernah kita pikirkan sampai hampir gila, pernah kita tulis sampai tinta kehabisan, pernah kita rasakan dalam diam sampai dada hampir meledak. Lalu biarkan pergi bersama derasnya air hujan di senja yang basah, membawa serta seluruh dunia yang pernah kita bangun sendirian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *