Rekam24.com, Bogor – Kota Bogor mendapat kehormatan istimewa dengan hadirnya Mahkota Binokasih Sang Hyang Paké, simbol kebesaran Kerajaan Pajajaran yang selama ini tersimpan di Keraton Sumedang Larang. Kehadiran artefak asli tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milangkala Tatar Sunda, yang puncaknya akan digelar dalam bentuk kirab pada Jumat malam besok.
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyampaikan rasa syukurnya atas momentum langka ini. Menurutnya, kehadiran mahkota tersebut bukan sekadar kunjungan fisik artefak, melainkan simbol kuatnya peradaban Sunda serta kedekatan historis antara Bogor dan Sumedang.
“Alhamdulillah, mahkota para raja Sunda kini hadir kembali di Bogor. Ini benda asli dari emas 18,8 karat dengan bobot sekitar 8 kilogram,” ujar Dedie, Kamis (7/5/2026).
Baca Juga : Besok! 1.500 Peserta Banjiri Kirab Mahkota Binokasih Bogor, Ini Titik Pengalihan Jalan
Ia menjelaskan bahwa sejarah mencatat perpindahan pusat Kerajaan Pajajaran ke Sumedang membawa serta berbagai benda berharga yang hingga kini dirawat dengan baik. Berdasarkan penelitian Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mahkota ini dipastikan berasal dari masa yang sezaman dengan Kerajaan Majapahit.
Prosesi arak-arakan atau kirab rencananya akan dilaksanakan besok setelah waktu Maghrib. Untuk memeriahkan suasana, parade ini tidak hanya menampilkan Mahkota Binokasih, tetapi juga akan diikuti oleh tiga kereta kencana.
“Kegiatan ini diharapkan mempererat tali silaturahmi. Sebagai orang Sunda, kita tentu bahagia bisa berkumpul kembali dengan saudara dan keluarga,” tambahnya.
Baca Juga : Kotak Amal Masjid di Sukaraja Bogor Dibobol Maling, Aksi Terekam CCTV
Sementara itu, Mahapatih Keraton Sumedang Larang, Lily Djamhur Soemawilaga, yang memimpin delegasi pengawalan mahkota, memberikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Kota Bogor. Ia menekankan bahwa esensi kunjungan ini adalah penguatan jati diri bangsa Sunda melalui nilai ‘Binokasih’.
“Makna Binokasih adalah cinta kasih, nilai tertinggi dalam kehidupan. Seorang pemimpin tidak akan mampu bersikap adil tanpa rasa cinta kasih,” tegas Lily.
Ia berharap kirab ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya kearifan lokal. Dengan identitas budaya yang kuat, nilai-nilai sejarah diharapkan mampu menginspirasi tatanan kehidupan yang lebih bijaksana demi kemajuan Indonesia. (Maya Melina)









