BPBD Kabupaten Bogor Ingatkan Warga Hemat Air, Puncak Kekeringan Diprediksi Dua Bulan Lagi

BPBD Kabupaten Bogor mengingatkan masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air seiring masuknya musim kemarau.

Rekam24.com, Bogor – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mengingatkan masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air seiring masuknya musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, mengatakan hingga saat ini baru tiga wilayah yang mengajukan bantuan air bersih kepada BPBD, yakni di Kecamatan Citeureup, Nanggung, dan Babakan Madang. Meski jumlahnya masih terbatas, BPBD tetap meningkatkan kesiapsiagaan mengingat musim kemarau baru memasuki tahap awal.

“Alhamdulillah sampai hari ini yang terdampak baru tiga titik yang meminta bantuan air bersih kepada kami, yaitu Citeureup, Nanggung, dan Babakan Madang. Tetapi kami tetap terus bersiaga karena kelihatannya ini baru awal kekeringan,” kata Ade Hasrat.

Baca Juga : DPRD Kota Bekasi Ingatkan Pemkot Cari Alternatif Dana Proyek Infrastruktur

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Jika prediksi tersebut sesuai, kondisi kekeringan diperkirakan mulai mereda pada Oktober mendatang.

“Kita dapat data dari BMKG, puncak kekeringan itu diprediksi pada bulan Agustus dan September. Kalau Agustus menjadi titik tertingginya, maka akan berakhir sekitar Oktober,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD mengaku telah melakukan sosialisasi dan mitigasi sejak Februari lalu. Salah satunya dengan meminta agar 189 toren air yang dibangun bersama Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) di berbagai wilayah diisi dan dipersiapkan saat musim hujan.

Baca Juga : Targetkan Ekspansi Bertahap, WMU Berpeluang Menjadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara

“Sejak Februari kami sudah memberikan peringatan. Toren-toren yang sudah dibangun harus dipersiapkan sejak musim hujan untuk menghadapi kondisi seperti sekarang,” jelas Ade.

Selain itu, keberadaan sumur bor yang dibangun di sejumlah titik juga dinilai cukup membantu mengurangi dampak kekeringan. Ade menyebut program pembangunan 21 sumur bor oleh Kodim pada tahun lalu terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan kekeringan.

“Titik-titik yang memiliki sumur bor sampai saat ini tidak meminta bantuan air kepada kami. Artinya program tersebut cukup membantu masyarakat,” katanya.

Baca Juga : Didukung DPRD Kota Bekasi, 32 Tim RW Rebutan Juara di Liga Kampung Soekarno Cup

Meski demikian, Ade mengakui masih ada sejumlah wilayah yang hampir setiap tahun mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau. Kondisi geografis dan keterbatasan sumber air tanah membuat beberapa daerah tetap rentan meskipun telah dilakukan pengeboran sumur.

Menurutnya, solusi jangka panjang yang perlu terus didorong adalah perluasan jaringan pelayanan air bersih, baik melalui sistem komunal maupun layanan perusahaan daerah air minum.

Di sisi lain, BPBD menilai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bogor masih relatif terkendali. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan kebakaran yang terjadi lebih banyak dipicu kelalaian manusia, seperti pembakaran sampah yang tidak terkendali.

Menghadapi puncak musim kemarau dalam dua bulan ke depan, BPBD mengimbau masyarakat untuk lebih bijak menggunakan air dalam aktivitas sehari-hari.

“Yang pasti masyarakat harus melakukan penghematan air. Jika jutaan warga bisa menghemat beberapa liter air setiap hari, dampaknya akan sangat besar terhadap ketersediaan air bersih selama musim kemarau,” pungkas Ade.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *