Rekam24.com, Bogor – Senyum di wajah Adidam tidak pernah luntur, meskipun tubuh kecilnya harus berjuang keras setiap hari. Adidam adalah satu dari ribuan anak di Indonesia yang didiagnosis menderita Cerebral Palsy (lumpuh otak)—sebuah gangguan gerakan, otot, dan postur tubuh akibat perkembangan otak yang tidak normal sejak dini.
Bagi anak-anak seperti Adidam, aktivitas sederhana seperti menggenggam sendok, duduk tegak, atau melangkah adalah sebuah perjuangan besar yang membutuhkan energi luar biasa.
Cerebral Palsy bukanlah akhir dari segalanya, namun kondisi ini membutuhkan penanganan medis jangka panjang. Agar otot-otot mereka tidak kaku dan kemampuan motoriknya bisa berkembang, anak-anak ini wajib menjalani, Terapi Fisik (Fisioterapi) & Terapi Wicara secara rutin, Penggunaan Alat Bantu seperti kursi roda khusus, walker, atau korset penyangga tubuh. Konsumsi Obat-obatan & Nutrisi Khusus untuk menunjang perkembangan saraf.
Baca Juga : Kejurkot PBSI 2026 Resmi Ditutup
Sayangnya, biaya pengobatan dan terapi yang tiada henti ini kerap menjadi beban berat bagi keluarga prasejahtera. Banyak orang tua yang terpaksa menghentikan terapi buah hati mereka karena kendala biaya, padahal masa emas tumbuh kembang mereka terus berjalan.
“Anak-anak dengan Cerebral Palsy tidak butuh rasa kasihan. Mereka butuh kesempatan dan fasilitas untuk bisa mandiri.”
Mari bersama Paperina Peduli menjadi bagian dari ruang tumbuh mereka. Setiap rupiah yang Anda donasikan melalui program “Mengetuk Pintu Hati” akan dialokasikan langsung untuk:
Baca Juga : Optimis PSEL Jadi Solusi, Ketua DPRD Minta Pentaan Kawasan Dilakukan Secara Serius
Subsidi Biaya Terapi: Membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu agar tetap bisa terapi rutin.
Penyediaan Alat Bantu: Membelikan kursi roda adaptif dan alat penunjang gerak lainnya.
Bantuan Nutrisi & Vitamin: Memastikan kebutuhan gizi terpenuhi demi mendukung fungsi otak dan otot.
Sekecil apa pun bantuan yang Anda berikan, itu adalah secercah cahaya bagi Adidam dan teman-temannya untuk terus melangkah. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.








