Nestapa Warga Bubulak Kota Bogor Hadapi Kekeringan di Musim Kemarau

warga RT 01 dan RT 02/RW 12 Kelurahan Bubulak, Kota Bogor, harus berjuang ekstra keras demi mendapatkan air bersih

Rekam24.com, Bogor – Memasuki bulan kedua musim kemarau, warga RT 01 dan RT 02/RW 12 Kelurahan Bubulak, Kota Bogor, harus berjuang ekstra keras demi mendapatkan air bersih. Sumur bor warga yang biasanya melimpah kini kering kerontang.

Demi bertahan hidup, warga terpaksa mengandalkan bantuan air bersih, mengantre berjam-jam di fasilitas umum, hingga memanfaatkan aliran air sungai yang keruh.

Kondisi kekeringan ini dirasakan sangat parah sejak awal Juli 2026, meski penyusutan debit air sumur sudah mulai terjadi sejak Juni lalu.

Muti (25), salah seorang warga setempat, menceritakan sulitnya mengakses air bersih. Dalam kondisi paling parah, pompa air di rumahnya hanya mampu menghasilkan satu hingga dua ember air sebelum akhirnya mati total.

Baca Juga : Tumpukan Limbah Sampah Terbakar di Gunung Putri, Api Sulit Dipadamkan hingga Berganti Regu

“Harus nunggu dua jam lagi untuk dapat satu atau dua ember, lalu habis lagi. Begitu saja terus. Akhirnya untuk mandi kami ke MCK umum, sedangkan untuk mencuci pakaian kami terpaksa ke kali,” keluh Muti, Kamis (16/7/2026).

Kondisi serupa dialami oleh Umi (51). Jangankan untuk mandi, menyalakan mesin pompa air di rumahnya kini hanya menghasilkan satu gayung air.

“Cucu saya sempat mencoba menyalakan pompa, tapi air yang keluar cuma satu gayung. Setelah itu mesin langsung dimatikan karena takut pompanya jebol akibat terlalu panas. Dapat air satu gayung buat buang air kecil saja tidak cukup,” ujar Umi.

Ketiadaan air bersih memaksa warga memutar otak. Dengan rata-rata anggota keluarga mencapai tujuh orang di setiap rumah, kebutuhan air di wilayah ini sangat tinggi.

Baca Juga : Rumah Panggung Bambu di Kemang Ludes Terbakar, Diduga Dipicu Korsleting Listrik

Bagi Muti, membeli air galon isi ulang dinilai terlalu menguras anggaran bulanan. Sebagai gantinya, ia memilih cara tradisional yang cukup berisiko, yaitu mengendapkan sisa air sumur yang keruh.

“Air sumur yang tersisa kami tuang ke ember, didiamkan dan ditutup berjam-jam sampai kotorannya turun ke bawah. Setelah disaring dan bersih, baru kami berani memasaknya untuk diminum,” tutur Muti.

Sementara itu, Umi memilih menyisihkan anggaran khusus sebesar Rp21.000 per hari untuk membeli tiga galon air isi ulang guna kebutuhan memasak dan minum.

“Biayanya kami patungan dengan anak. Kalau tidak begitu, kami terpaksa pakai air kali, tapi kan tidak higienis untuk wadah makanan,” jelas Umi.

Baca Juga : Yamaha Byson Versi 2026 Meluncur, Harga Cuma Rp23 Jutaan

Kehadiran bantuan air bersih darurat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun inisiatif RT menjadi angin segar. Namun, perjuangan untuk mengangkut air tersebut sangat menguras fisik.

Umi menceritakan suaminya harus bolak-balik membawa gerobak berisi 13 galon air untuk ditampung di rumah. Mereka bahkan sering kali harus mengantre di MCK umum hingga larut malam.

“Hari Senin kemarin kami mengambil air sampai jam 10 malam di MCK. Kadang masih kurang, sampai bapak harus balik lagi jam 11 malam. Kaki saya sampai bengkak-bengkak karena harus bolak-balik mengangkut air,” ungkap Umi.

Bencana kekeringan ini merupakan agenda tahunan yang terus berulang setiap musim kemarau tiba di Bubulak. Warga pun mulai menyuarakan aspirasi terkait solusi jangka panjang, salah satunya opsi beralih ke layanan air bersih perpipaan (PAM).

Namun, warga memiliki pandangan yang beragam:

Muti keberatan dengan biaya pemasangan dan iuran bulanan PAM yang dinilai mahal. Ia lebih berharap ada bantuan untuk memperdalam sumur bor miliknya.

Umi mendukung penuh jika seluruh warga sepakat beralih ke layanan PAM demi menyudahi penderitaan tahunan ini.

Kini, warga hanya bisa berharap intensitas bantuan air bersih terus terjaga selagi menanti datangnya musim hujan, sekaligus mengetuk pintu pemerintah daerah untuk memberikan solusi konkret dan terjangkau. (Maya Melina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *