Rekam24.com, Bogor – Debit air Bendung Katulampa di Kota Bogor turun drastis hingga tinggi muka air (TMA) mencapai 0 centimeter pada musim kemarau 2026. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan potensi krisis air bersih, sementara pakar IPB University menilai penyebabnya bukan hanya minimnya curah hujan, tetapi juga terganggunya aliran dasar sungai (baseflow) yang seharusnya tetap menjaga aliran air saat musim kemarau.
Guru Besar Hidrologi Sumber Daya Air dan Geofisika IPB University, Prof. Hidayat Pawitan, menjelaskan bahwa fenomena keringnya Bendung Katulampa menunjukkan tidak adanya kontribusi baseflow yang selama ini menjadi penopang aliran Sungai Ciliwung ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.
“Terkait kondisi Katulampa yang sudah tidak mengalirkan air, ini terjadi karena tidak ada lagi kontribusi baseflow yang seharusnya tetap menjaga aliran sepanjang kemarau,” ujar Prof. Hidayat kepada Rekam24, Senin (20/7/2026).
Baca Juga : Sumur Warga Kering, BPBD Salurkan 4.000 Liter Air Bersih ke Kedung Halang Bogor Utara
Selain faktor alam, Prof. Hidayat juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap kondisi fisik Bendung Katulampa. Menurutnya, kemungkinan adanya kerusakan atau kebocoran pada struktur bendung juga perlu diteliti oleh instansi terkait.
“Di samping itu, perlu dicermati kondisi fisik Bendung Katulampa yang mungkin sudah mengalami kerusakan atau kebocoran lateral,” tambahnya.
Menanggapi upaya penanganan krisis air, Prof. Hidayat menilai masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan distribusi bantuan air bersih dari pemerintah daerah. Ia menyebut pemanfaatan cadangan air tanah masih menjadi solusi yang dapat dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Baca Juga : Hujan Mengguyur Dari Sahur Hingga Saat Ini, Bendung Katulampa Masuk Siaga 3
Menurutnya, kebutuhan air bersih rumah tangga relatif tidak terlalu besar dibandingkan potensi cadangan air tanah yang tersedia.
“Kebutuhan air domestik masyarakat itu relatif kecil, sekitar 50 liter per kapita per hari. Sementara ketersediaan cadangan air tanah relatif besar dan jauh melampaui kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat memanfaatkan musim kemarau sebagai waktu yang tepat untuk memperdalam sumur yang sudah ada maupun membangun sumur baru agar pasokan air tetap terjaga.
“Memang saat kemarau adalah momen yang paling tepat untuk memperdalam sumur yang ada maupun membuat sumur baru, karena posisi muka air tanah sedang berada di titik terendah,” pungkasnya.
Prof. Hidayat berharap langkah pemanfaatan air tanah, disertai evaluasi dan perbaikan infrastruktur Bendung Katulampa, dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan air di wilayah Bogor dan daerah hilir Sungai Ciliwung. (Maya Melina)








