Rekam24.com, FIKSI – Keesokan harinya, aku melihat Sonia berjalan di kompleks dengan tas plastik hitam di tangannya. Aku sudah tahu, ia baru saja selesai berbelanja. Begitu matanya menangkapku, ia tersenyum kecil dan memanggil,
“Hey… baru pulang sekolah?”
“Iya, Mba,” jawabku. Sejak dulu aku selalu memanggilnya Mba. Meski selisih usia kami hanya dua tahun, kebiasaan itu tak pernah berubah.
Sonia mengajakku duduk di taman. Ia duduk di sebelahku, tubuhnya sedikit membungkuk. Tanpa banyak kata, aku mengangkat dagunya pelan. Wajahnya menghadapku. Air mata sudah menetes diam-diam.
Aku hanya bisa menatap.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Sonia mulai berbicara. Suaranya serak dan pelan. Ia bercerita bahwa hubungannya sudah berakhir. Kekasihnya dijodohkan dengan seorang wanita yang bekerja di perkantoran. Yang lebih menyakitkan, pria itu ternyata telah menghamili wanita tersebut.
“Aku cuma pembantu rumah tangga,” katanya pelan. “Mungkin di mata banyak orang, aku memang selalu dipandang sebelah mata.”
Aku diam sejenak, lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku celanaku. Aku mengusap pelan air mata di pipinya, lalu memegang tangannya.
“Mba Sonia… kamu tahu apa yang membuatmu berbeda?”
Ia menatapku.
“Bukan pekerjaanmu. Bukan status sosialmu. Yang membedakanmu adalah kebaikan dan ketulusan hatimu. Pria itu… suatu hari nanti mungkin akan menyesal. Karena ia menyia-nyiakan seseorang yang hatinya sejernih itu.”
Di dalam dada, hatiku justru berdegup kencang. Saat Sonia bilang ia sudah tidak bersama pria itu lagi, ada rasa lega yang sulit kujelaskan. Tapi aku menyembunyikannya. Aku tak ingin kebahagiaan itu terlihat di wajahku. Bukan saat seperti ini.
Malam itu, angin bertiup kencang. Dedaunan bergesekan. Jangkrik bersuara di kejauhan. Suasana hatiku ikut ramai. Aku terus memikirkan Sonia. Jantungku berdetak lebih cepat setiap kali bayangannya muncul. Sudah beberapa malam seperti ini. Dan malam itu, aku akhirnya jujur pada diri sendiri:
Aku mencintai Sonia.
Pernah sesaat terlintas di kepalaku—bagaimana mungkin aku mencintai seorang asisten rumah tangga yang lebih tua dua tahun dariku? Bagaimana jika orang tua atau teman-temanku tahu? Tapi aku segera mengusir pikiran itu.
Derajat seseorang tidak ditentukan oleh kasta atau pekerjaan. Manusia hanyalah makhluk yang sementara. Dunia ini fana. Semua yang kita anggap tinggi, suatu hari akan hilang. Yang tersisa hanyalah bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Sejak kesadaran itu datang, sikapku berubah.
Pagi berikutnya, aku bertemu Sonia di depan kompleks. Ia sedang bersiap pergi ke pasar, tas di tangan. Aku tersenyum.
“Hey, Mba Sonia. Mau ke mana?”
“Ke pasar. Kamu mau ke sekolah, ya?”
“Iya. Sini, biar aku yang bawa tasnya.”
Sonia terkejut, lalu tertawa kecil. “Ehh, tumben kamu baik banget. Perhatian gitu.”
Aku mengambil tas itu dari tangannya. Kami berjalan berdampingan. Di sepanjang jalan, kami mengobrol tentang hal-hal kecil—cuaca, tetangga, dan sedikit tentang sekolahku. Percakapan yang biasa, tapi terasa hangat.
Sesampainya di pasar, aku berhenti sejenak.
“Mba, aku ke sekolah dulu ya.”
Sonia mengangguk, tersenyum tipis. “Hati-hati.”
Aku berjalan menjauh, tapi beberapa kali menoleh ke belakang. Sonia masih berdiri di situ, memandangiku pergi. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa jelas:
Ini bukan sekadar rasa kangen masa kecil.
Ini cinta.
Kalau mau, aku bisa lanjutkan bagian berikutnya (misalnya momen-momen kecil yang makin mendekatkan mereka, atau konflik internal yang lebih dalam) dengan gaya yang sama.








