Rekam24.com — Nama Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin kini masuk dalam bursa kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia mengusulkan Budi untuk bersaing dalam proses pemilihan pimpinan baru WHO yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Pencalonan tersebut menjadi perhatian karena Budi bukan berasal dari latar belakang kedokteran. Ia dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang perbankan, manajemen korporasi, pemerintahan, hingga kebijakan kesehatan global.
Dalam daftar prospective candidates yang dipublikasikan WHO, nama Budi tercantum bersama sejumlah tokoh internasional yang diajukan negara masing-masing. Status tersebut masih merupakan tahap awal sehingga belum berarti Budi telah menjadi kandidat final untuk pemilihan Direktur Jenderal WHO.
Baca Juga :Â Cekcok Saat Beli Gorengan, Pria 55 Tahun Tewas Dibacok di Pasar Cibinong
Pencalonan Budi menjadi bagian dari langkah diplomasi Indonesia di sektor kesehatan global. Posisi Direktur Jenderal WHO memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan organisasi yang menangani berbagai persoalan kesehatan internasional.
WHO masih menjalankan proses pencalonan. Daftar kandidat dapat berubah seiring berlangsungnya tahapan nominasi oleh negara-negara anggota.
Karena itu, posisi Budi saat ini lebih tepat disebut sebagai kandidat prospektif, bukan sebagai calon terpilih ataupun kandidat final.
Perjalanan karier Budi cukup berbeda dari banyak tokoh yang berkiprah di sektor kesehatan.
Baca Juga :Â KRAKEN Bikin Sentul Otopark Bergemuruh, Aksi Bass Hilman Septian Jadi Sorotan di MAGNUMOTION 2026
Budi merupakan lulusan bidang fisika nuklir. Sebelum masuk pemerintahan, ia lebih dahulu membangun karier di sektor keuangan dan korporasi.
Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis di industri perbankan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu modal yang dibawa ketika dipercaya menjadi Menteri Kesehatan pada akhir 2020.
Latar belakang tersebut membuat pendekatan Budi terhadap sektor kesehatan banyak bersinggungan dengan persoalan manajemen, pembiayaan, tata kelola, dan transformasi sistem kesehatan.
Budi mulai mendapat perhatian luas setelah dipercaya memimpin Kementerian Kesehatan ketika pandemi COVID-19 masih menjadi persoalan besar.
Baca Juga :Â Proyek R3 Katulampa Bogor Progres 8 Persen, Pemkot Siapkan Jembatan Rp80 Miliar
Pada periode tersebut, pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar mulai dari ketersediaan vaksin, penguatan fasilitas kesehatan, pelacakan kasus hingga percepatan program vaksinasi.
Pengalaman menghadapi krisis kesehatan dalam skala nasional menjadi bagian penting dari rekam jejak Budi sebelum Indonesia mengusulkan namanya untuk posisi tertinggi di WHO.
Selain pengalaman di tingkat nasional, Budi juga terlibat dalam agenda kesehatan global, termasuk pembahasan mengenai pembiayaan kesiapsiagaan menghadapi pandemi.
Pencalonan Budi menarik perhatian karena Direktur Jenderal WHO tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai persoalan kesehatan, tetapi juga kemampuan mengelola organisasi internasional dengan kepentingan negara anggota yang sangat beragam.
Pengalaman Budi di sektor keuangan dan manajemen dapat menjadi keunggulan dalam persoalan tata kelola dan pembiayaan.
Namun, latar belakangnya yang bukan dokter juga berpotensi menjadi bahan perdebatan di antara negara anggota WHO.
Pada akhirnya, keputusan tidak hanya bergantung pada latar belakang profesi kandidat. Kemampuan diplomasi, pengalaman kepemimpinan, visi terhadap kesehatan global serta dukungan negara anggota akan menjadi faktor penting dalam proses pemilihan.
Dalam daftar kandidat prospektif yang telah diumumkan WHO, Budi bukan satu-satunya figur yang bersaing.
Sejumlah nama lain yang telah diusulkan antara lain:
Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar. Ia memiliki pengalaman dalam pengelolaan sistem pelayanan kesehatan dan sektor rumah sakit.
Hanan Balkhy dari Arab Saudi. Ia dikenal sebagai pakar penyakit menular dan memiliki pengalaman dalam kepemimpinan organisasi kesehatan internasional.
Hans Henri P. Kluge dari Belgia. Ia merupakan Direktur Regional WHO untuk Eropa dan memiliki pengalaman panjang dalam kebijakan serta diplomasi kesehatan global.
Komposisi tersebut masih dapat berubah karena proses nominasi belum berakhir.
Pemilihan Direktur Jenderal WHO bukan dilakukan melalui pemungutan suara masyarakat umum.
Prosesnya melibatkan negara-negara anggota WHO melalui sejumlah tahapan. Kandidat akan melalui proses seleksi sebelum pemilihan akhir dilakukan dalam forum Majelis Kesehatan Dunia.
Pemilihan Direktur Jenderal WHO yang baru dijadwalkan berlangsung pada 2027. Direktur Jenderal WHO saat ini, Tedros Adhanom Ghebreyesus, masih menjalankan masa jabatannya hingga Agustus 2027.
Dengan demikian, perjalanan Budi menuju posisi tersebut masih panjang.
Masuknya Budi Gunadi Sadikin dalam daftar kandidat prospektif merupakan pencapaian penting bagi Indonesia dalam diplomasi kesehatan internasional.
Namun, pencalonan ini baru merupakan tahap awal. Dukungan negara anggota, kemampuan menyampaikan visi, rekam jejak kepemimpinan serta strategi diplomasi Indonesia akan menjadi faktor penting untuk menentukan sejauh mana Budi dapat melangkah.
Jika berhasil terpilih, Budi akan menjadi tokoh Indonesia yang memimpin salah satu organisasi internasional paling berpengaruh dalam bidang kesehatan.
Untuk saat ini, publik masih harus menunggu tahapan berikutnya dari proses pemilihan tersebut








