Rekam24.com, Jakarta – Sebuah unggahan di media sosial TikTok memicu kekhawatiran publik dengan narasi yang mengeklaim Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan peringatan bahwa ekonomi Indonesia akan segera “suram” menyusul negara-negara lain akibat dampak perang global. Namun, setelah dilakukan penelusuran fakta, informasi tersebut dinyatakan keliru dan menyesatkan.
Berdasarkan verifikasi tim Jalahoaks dan laporan dari Tirto.id, potongan pernyataan tersebut diambil dari momen rapat kerja Menkeu bersama Komisi XI DPR RI pada April 2026. Terdapat penghilangan konteks penting yang mengubah makna asli pernyataan sang Menteri.
Berikut adalah poin-poin klarifikasi terkait pernyataan Menkeu Purbaya:
Baca Juga : DKI Jakarta Sabet Gelar Provinsi Terbaik Nasional 2025
Tantangan Geopolitik: Menkeu memang mengakui eskalasi konflik antara AS-Israel vs Iran menjadi tantangan signifikan bagi APBN. Namun, ia menekankan pada pentingnya pengelolaan yang baik agar Indonesia tidak mengalami nasib yang sama dengan negara lain yang ekonominya melambat.
Sistem Peringatan Dini: Kemenkeu telah menerapkan early warning system untuk memantau stabilitas ekonomi secara ketat. Langkah ini diambil justru untuk mencegah dampak buruk, bukan menyatakan bahwa ekonomi Indonesia sudah pasti akan suram.
Indikator Ekonomi Positif: Berlawanan dengan klaim hoaks, Purbaya justru optimistis melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2026 yang diprediksi mencapai level 5,5% atau lebih.
Baca Juga : Membawa Semangat Inklusif, Inilah Sosok Ketua Baru PC PMII Kota Bogor
Stabilitas BBM: Pelemahan ekonomi di negara lain dipicu oleh kenaikan harga BBM yang drastis, sementara pemerintah Indonesia sejauh ini masih berupaya menahan harga untuk menjaga daya beli masyarakat.
Narasi yang beredar di TikTok merupakan konten yang tidak utuh (misleading content). Menteri Keuangan tidak memberikan peringatan ekonomi akan suram, melainkan menjelaskan langkah strategis pemerintah dalam memitigasi risiko global agar stabilitas nasional tetap terjaga.
Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa sumber berita resmi dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video atau tangkapan layar yang tidak memiliki konteks lengkap.










