KDM: Hapus Kesan Klenik, Prasasti Batutulis Harus Dikaji Secara Teknokratis

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menekankan perlunya perubahan paradigma dalam memandang benda purbakala.

Rekam24.com, Bogor – Diskusi mengenai cagar budaya di Museum Pajajaran Batutulis membawa pesan kuat tentang pentingnya menata masa depan melalui perspektif sejarah yang rasional.

Dalam forum bertajuk “Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake” pada Kamis (14/5/2026), Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menekankan perlunya perubahan paradigma dalam memandang benda purbakala.

KDM mengajak masyarakat untuk mulai meninggalkan cara pandang klenik atau mistis terhadap warisan leluhur. Menurutnya, peninggalan sejarah harus dipahami secara teknokratis sebagai bukti nyata tingginya peradaban masa lalu.

Baca Juga : Waspada! Jabar Berpotensi Diguyur Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga Malam Ini

“Kita harus melihat dari sudut peradaban. Pada zaman itu, leluhur kita sudah memiliki kepesatan cara berpikir dan bertindak. Kita harus memahami bahwa kita memiliki leluhur dengan kecerdasan peradaban yang luar biasa pada zamannya,” ujar KDM.

Salah satu poin krusial yang ia sampaikan adalah urgensi kodifikasi sejarah dalam bentuk karya akademik. KDM berharap ke depan tersedia buku atau naskah akademik yang mengupas tuntas setiap peninggalan, mulai dari material pembuatan, penanggalan, hingga makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Langkah ini dianggap sebagai solusi efektif untuk menyambung missing link atau mata rantai sejarah yang terputus. Naskah akademik tersebut nantinya tidak hanya menjadi dokumentasi statis, tetapi harus menjadi fondasi dalam menentukan kebijakan publik saat ini.

“Sejarah masa lalu dan masa depan harus menjadi satu kesatuan. Naskah akademik itu nantinya harus menjadi pedoman dalam penyusunan tata ruang, tata bangunan, hingga tata kelola pendidikan dan kesehatan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *