Rekam24.com, Bogor — Bogor tak hanya dikenal sebagai Kota Hujan dan rumah bagi Kebun Raya Bogor. Kota ini juga memiliki cerita panjang tentang budaya minum kopi yang terus bertahan dari generasi ke generasi.
Jejak tersebut kembali dihidupkan melalui Festival Kopi Legendaris, bagian dari rangkaian Festival Merah Putih (FMP). Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, festival tersebut digelar lebih semarak dengan durasi yang diperpanjang dari dua menjadi tiga hari.
Festival ini tidak hanya menghadirkan sajian kopi, tetapi juga mempertemukan sejumlah pelaku usaha kopi bersejarah dengan UMKM kuliner khas Bogor.
Baca Juga :Â Zaenal Abidin Dorong Perundungan di Sekolah Ditekan, DPRD Kota Bogor Masifkan Sosialisasi Perda
PIC Festival Kopi Legendaris sekaligus pemilik generasi ketiga Kopi Bah Sipit, Nancy Wahyuni, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku usaha lokal untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Kota Bogor.
“Kami bergandengan tangan untuk memajukan brand lokal Bogor,” ujar Nancy.
Menurutnya, Festival Kopi Legendaris tahun ini juga menghadirkan beragam produk kuliner khas, mulai dari asinan, laksa Bogor hingga hasil pertanian lokal.
Baca Juga :Â KPK Bantah OTT di Kabupaten Bogor, Ada Kegiatan Lain yang Sedang Berlangsung
Nuansa festival semakin kuat dengan kehadiran panggung Blues Night yang digelar pada Sabtu. Konsep tersebut dipadukan dengan aktivitas menikmati kopi sehingga menciptakan suasana berbeda bagi pengunjung.
Salah satu cerita menarik dalam perjalanan kopi Bogor datang dari Kopi Bah Sipit. Usaha kopi yang berada di Jalan Empang No. 27, Kota Bogor, tersebut telah berdiri sejak 1925.
Bisnis yang didirikan Yuhong Keng, kakek Nancy Wahyuni, itu kini telah memasuki generasi ketiga.
Bagi keluarga Nancy, menjaga cita rasa menjadi bagian penting agar produk kopi tersebut tetap bertahan di tengah perubahan tren konsumsi kopi.
Baca Juga :Â EIGER Adventure Land Berganti Nama Jadi EIGER Nature, Dibuka untuk Publik September 2026
Nancy mengatakan konsistensi kualitas menjadi salah satu kunci keberlangsungan usaha keluarganya selama puluhan tahun.
“Kunci utama kami bertahan adalah konsistensi menjaga kualitas sejak 100 tahun lalu,” katanya.
Ia menjelaskan, keluarganya mempertahankan penggunaan kopi murni dalam produk yang dipasarkan.
Menurut Nancy, budaya minum kopi di Bogor juga bukan sekadar tren yang muncul dalam beberapa tahun terakhir. Kebiasaan menikmati kopi sambil berkumpul dan berbincang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Baca Juga :Â Hakim Tolak Penangguhan Nyumarno Cs, Kuasa Hukum Korban: Itu Kewenangan Majelis
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim turut menyoroti hubungan erat antara Bogor dan sejarah perkopian.
Menurut Dedie, perjalanan kopi di Bogor memiliki nilai sejarah yang penting. Ia menyebut kawasan Bogor memiliki kaitan dengan proses aklimatisasi bibit kopi pada masa Hindia Belanda.
Selain itu, keberadaan pelaku usaha kopi legendaris seperti Kopi Bah Sipit yang telah bertahan sejak 1925 menjadi bagian dari kekayaan sejarah kuliner Kota Bogor.
“Bogor dan kopi itu tidak bisa dipisahkan,” kata Dedie.
Ia menilai kekayaan sejarah tersebut dapat menjadi modal bagi Bogor dalam mengembangkan identitas sebagai kota gastronomi.
Menurutnya, konsep City of Gastronomy tidak hanya berkaitan dengan keberadaan restoran dan kafe modern, tetapi juga bagaimana potensi kuliner dibangun menjadi sebuah ekosistem yang terhubung dari hulu hingga hilir.
Perkembangan budaya kopi di Bogor kini membuka peluang baru di sektor pariwisata.
Kopi tidak lagi hanya diposisikan sebagai minuman, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata melalui cerita sejarah, tempat usaha, proses pengolahan, hingga keberadaan pelaku usaha yang mempertahankan tradisi selama puluhan tahun.
Konsep tersebut dikenal sebagai coffee tourism, yakni pengalaman wisata yang menjadikan kopi sebagai bagian dari daya tarik perjalanan.
Dengan kekayaan kuliner, keberadaan kopi legendaris dan cerita sejarah yang menyertainya, Bogor memiliki peluang untuk mengembangkan wisata gastronomi berbasis pengalaman.
Festival Kopi Legendaris pun menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali cerita tersebut kepada masyarakat sekaligus mempertemukan pelaku kopi, UMKM kuliner dan wisatawan dalam satu kegiatan.
Bagi Bogor, secangkir kopi bukan hanya soal rasa. Di baliknya terdapat cerita tentang tradisi, keluarga, usaha yang bertahan lintas generasi, serta identitas kota yang terus berkembang.








