Rekam24.com, Bogor – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan (BEM FEB Unpak) menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Bogor pada Rabu (17/6/2026).
Aksi turun ke jalan ini menyuarakan kritik tajam terhadap sejumlah kebijakan nasional yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, mulai dari revisi undang-undang, pengelolaan APBN, hingga masalah lapangan pekerjaan.
Ketua BEM FEB Unpak periode 2026–2027, Sabil Rianza, menyatakan bahwa pergerakan ini didasari oleh kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa untuk bersatu mengawal isu-isu nasional yang kian mendesak.
Baca Juga : Salurkan MBG, Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara bersiap Siapkan Generasi Emas 2045
“Kami membawa beberapa tuntutan. Pertama, merevisi UU Polri yang sudah disahkan kemarin. Kedua, terkait pemborosan APBN yang digunakan pada program-program yang tidak terasa langsung dampaknya oleh masyarakat,” ujar Sabil dalam orasinya.
Salah satu kebijakan yang disoroti secara spesifik adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sabil menilai, meski program tersebut bermanfaat untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), penerapannya di wilayah lain justru salah sasaran akibat buruknya manajemen pengelolaan.
Menurutnya, setiap pengambilan keputusan kebijakan harus berlandaskan tiga asas utama, yaitu tepat sasaran, tepat guna, dan memiliki nilai manfaat (value) yang nyata bagi penerima.
Baca Juga : Tawuran Live Instagram Digagalkan Polisi, Tiga Remaja Diamankan di Parung
Selain masalah anggaran, massa aksi juga mengkritisi isu pembangunan yang menggunakan diksi “percepatan”, seperti proyek 1.000 titik kampung nelayan yang dinilai rentan terhadap praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).
Sabil juga menyoroti iklim investasi nasional yang berimbas pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal bagi para buruh, serta menyuarakan urgensi realisasi pendidikan gratis yang dinilai sangat mampu dicukupi oleh APBN.
“Kami tidak anti-pemerintah, kami tidak anti terhadap program pemerintah, kami juga cinta negeri ini. Tapi kalau kecintaan kami dibalas dengan kebijakan-kebijakan seperti ini, maka tidak ada kata lain kecuali turun ke jalan dan melawan,” tegasnya.
Di akhir aksi, mahasiswa menuntut agar perwakilan pemerintah dari dalam Istana Bogor bersedia keluar untuk menemui massa serta mendengarkan langsung aspirasi mereka.
(Maya Melina)








