Kisah Pengajar Pesantren Asal Leuwiliang Bogor: Pertama Kali Ikut Program Gratis Demi Hemat Biaya

Imam Wahyudi (40), seorang warga asal daerah Leuwiliang, Bogor, yang tahun ini berkesempatan pulang ke kampung melalui program mudik gratis

Rekam24.com, Bogor – Antusiasme warga menyambut mudik Lebaran mulai terasa di berbagai penjuru daerah. Salah satunya dirasakan oleh Imam Wahyudi (40), seorang warga asal daerah Leuwiliang, Bogor, yang tahun ini berkesempatan pulang ke kampung halaman di Ungaran, Semarang, melalui program mudik gratis yang diselenggarakan oleh Polresta.

Bagi Imam, ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti program mudik gratis. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai pengajar di sebuah pondok pesantren ini mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini, mengingat harga tiket bus reguler menjelang Lebaran melonjak drastis hingga mencapai Rp500.000 per orang.

“Alhamdulillah senang banget, Bu. Karena emang harga tiket sekarang mahal ya. Dapat mudik gratis alhamdulillah senang banget,” ujar Imam saat diwawancarai di lokasi keberangkatan.

Baca Juga : Diduga Akibat Pembakaran Sampah, Rumah di Cilendek Bogor Ludes Dilalap Si Jago Merah!

Imam mendapatkan informasi mengenai program ini melalui grup komunitas mudik di media sosial. Meskipun sebelumnya sempat kehabisan kuota saat mendaftar di program milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab), ia akhirnya berhasil mendapatkan tempat di program Polresta setelah mendaftar satu minggu yang lalu.

Dalam perjalanan kali ini, Imam memboyong keluarganya yang berjumlah lima orang. Karena anak-anaknya masih kecil, ia memesan tiga kursi bus untuk mengakomodasi perjalanan menuju Semarang yang diperkirakan memakan waktu sekitar 10 jam.

Terkait persiapan biaya, Imam menyebutkan bahwa anggaran yang ia siapkan sebesar Rp2 juta hingga Rp3 juta kini bisa dialokasikan sepenuhnya untuk keperluan di kampung halaman karena biaya transportasi sudah tercover.

Baca Juga : Diduga Akibat Pembakaran Sampah, Rumah di Cilendek Bogor Ludes Dilalap Si Jago Merah!

Meski sangat bersyukur, Imam memberikan catatan kecil mengenai fasilitas bus yang tidak memiliki toilet di dalam kabin. Ia pun berharap agar teknis pemberhentian untuk istirahat dan ibadah Magrib dapat terkoordinasi dengan baik oleh panitia.

“Harapannya mungkin tahun-tahun ke depannya lebih banyak lagi kursinya. Karena ini kan cuma 300 (kuota), mungkin masih banyak orang yang membutuhkan juga yang belum dapat.” Pungkasnya sebelum berangkat menuju Ungaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *