Rekam24.com, Jakarta – Inara Rusli membagikan salah satu momen paling berat yang pernah ia alami, yaitu ketika tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya. Ia mengaku sempat merasa sangat terpuruk dalam periode itu.
Menurut Inara, anak-anak selalu menjadi fokus utama dalam hidupnya. Ketika harus berjauhan dari mereka untuk sementara, rasa kehilangan yang dirasakannya begitu mendalam. Ia mengaku sempat merasakan kesepian dan kekosongan yang cukup berat karena tidak bisa menemani pertumbuhan anak-anaknya secara langsung.
“Aku pernah drop pada saat kemarin waktu nggak ketemu sama anak-anak. Karena dari awal memang goals aku itu anak-anak,” ujar Inara,
Baca Juga : Tristan Molina Sempat Ingin Pergi dari Indonesia, Pacar Brondong Olla Ramlan Sebut Alasan Tetap Tinggal
Ia menegaskan bahwa sejak awal, kehidupannya selalu berpusat pada keluarga. Bagi Inara, anak-anak merupakan prioritas dalam setiap keputusan yang ia ambil, mulai dari pekerjaan, kegiatan sosial, hingga aktivitas sehari-hari.
Ketika jarak memisahkan sementara waktu, kesedihan itu membuatnya sempat merasa sangat terpukul.
Meski demikian, Inara berusaha tetap berpikir positif dan menyerahkan segala persoalan kepada Tuhan, meyakini bahwa setiap masalah memiliki jalan keluar. Ia berupaya untuk menyeimbangkan antara tanggung jawab pribadi dan peran sebagai ibu, agar tidak ada aspek kehidupan yang terabaikan.
Baca Juga : Sosok Brigjen Pol Edy Suranta Sitepu, Perwira Tegas dengan Pendekatan Humanis
“Sebagai seorang ibu kita harus kembali ke peran kita, menjadi madrasah bagi anak-anak,” kata Inara Rusli. Pernyataan ini menunjukkan betapa ia menempatkan pendidikan karakter dan akhlak anak-anak sebagai prioritas utama, sehingga setiap keputusan yang ia ambil selalu mempertimbangkan kesejahteraan dan masa depan mereka.
Ia percaya bahwa selama menjalankan peran dengan penuh tanggung jawab, Tuhan akan memberikan jalan. Keyakinan inilah yang membuatnya terus berusaha bangkit dari keterpurukan, walau menghadapi tantangan yang cukup berat. Ia juga berusaha menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya melalui contoh nyata, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.
Selain itu, pengalaman sulit yang dilalui membuatnya semakin kuat. Inara belajar banyak dari berbagai peristiwa dalam hidupnya, termasuk momen ketika ia harus menahan diri menghadapi tekanan emosional dan sosial. Ia menekankan bahwa setiap ujian hidup membawa pelajaran yang berharga dan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Baca Juga : Band Metal Bogor Kraken Rilis ‘Kaliyuga’, Kritik Tajam Fenomena Tirani dan Genosida
Sebagai ibu dari tiga anak, ia memahami bahwa setiap orang memiliki ujian masing-masing. Ia berusaha menerima semua dengan lapang dada dan menjadikan pengalaman sebagai bahan refleksi diri. Menurutnya, kesulitan bukan hanya soal rintangan sehari-hari, tetapi juga sarana untuk mengasah kesabaran, keteguhan, dan kemampuan mengelola emosi.
Inara menilai masalah yang datang dalam hidup bukan sekadar kesulitan, melainkan sarana untuk menguji ketabahan dan memperkuat diri. Pengalaman tersebut membuatnya lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan lebih mampu memahami kebutuhan emosional anak-anaknya. Ia juga kerap menekankan pentingnya komunikasi yang hangat dan terbuka, sehingga hubungan antara ibu dan anak tetap erat meski ada tantangan.
Kini, ia mengaku lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi dan berharap dapat menjalani peran sebagai ibu dengan lebih sabar, bijak, dan penuh keteguhan. Ia juga berupaya menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis, di mana anak-anak merasa dicintai dan didukung dalam setiap langkah hidup mereka. Dengan kesadaran penuh akan tanggung jawabnya, Inara terus berkomitmen menyeimbangkan peran pribadi, profesional, dan keluarga demi masa depan anak-anaknya yang lebih baik.










